Showing posts with label farmasi. Show all posts
Showing posts with label farmasi. Show all posts

Sunday, March 29, 2015

Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens

Sarang Semut

(Myrmecodia pendens Merr. & L.M.Perry)

Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens
Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens

NAMA LOKAL
Nama Indonesia          : Sarang semut
Nama Daerah              : Rumah  semut (Sumatra); ulek ulek polo (Jawa); lokon,
  suhendep, nongon (Papua)
Nama Luar Negeri      : Periok hantu, peruntak, sembuku (Malaysia); by ki nan, ki nam        
gai, ki nam kin (Vietnam); Ant Plant (Inggris).
Nama informal            : Khusus untuk Myrmecodia tuberose, ada sekitar 16 subspesies
atau varietas yang diberi nama informal, yaitu: Armata, Siberutensis, Bracteata, Apoensis, Sibuyanensis, Menadensis, Rumphii, Bullosa, Lanceolata, Muelleri, versteegii, Pulvinata, Papuana, Dahlii, Salomonensis, dan Manusensis.
 TAKSONOMI
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Rubiales
Famili              : Rubiaceae
Genus              : Myrmecodia
Spesies            : Myrmecodia alata Becc.
Myrmecodia archboldiana Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia aureospina Huxley & Jebb
Myrmecodia brassii Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia ferox Huxley & Jebb
Myrmecodia horrida Huxley & Jebb
Myrmecodia kutubuensis Huxley & Jebb
Myrmecodia lamii Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia paradoxa Huxley & Jebb
Myrmecodia pendens Merr. & L.M.Perry (sering dijadikan obat)
Myrmecodia pteroaspida Huxley & Jebb
Myrmecodia sterrophylla Merr. & L.M.Perry

MORFOLOGI
Tumbuhan perdu parasit-epifit ini dapat berasosiasi dengan semut. Secara ekologi tumbuhan sarang semut tersebar di hutan bakau dan pohon-pohon di pinggir pantai hingga ketinggian 30 - 45 cm serta golongan tumbuhan berumur panjang (perenial). Perkembangbiakan nya secara generatif yaitu dengan menghasilkan biji. Tanaman ini berasal dari  daratan Papua.
Batang sarang semut ini bercirikan berkayu, silindris, jarang ada yang bercabang, jika ada hanya satu atau beberapa cabang saja. Bahkan ada beberapa spesies yang tidak memiliki cabang sama sekali. Batangnya tebal dan internodalnya sangat dekat, kecuali pada pangkal sarang semut dari beberapa spesies. Saat muda pangkalnya menggelembung berbentuk bulat, kemudian menjadi lonjong memendek dan memanjang. Saat tua diamater pangkal batang kadang bisa mencapai 30 cm, berwarna cokelat muda hingga abu-abu, permukaan dipenuhi duri-duri tajam, bagian dalam berbentuk rongga bersekat-sekat dan biasa dijadikan tempat tinggal koloni semut.
Daun tunggal, bertangkai, tersusun menyebar namun lebih banyak terkumpul di ujung batang, warna hijau, bentuk jorong, panjang 20 - 40 cm, lebar 5 - 7 cm, helaian daun agak tebal - lunak, ujung tumpul (obtusus), pangkal meruncing, tepi rata, permukaan halus, tulang daun berwarna putih. Daunnya tebal seperti kulit. Pada beberapa spesies memiliki daun  yang sempit dan panjang. Stipula (penumpu) besar, persisten, terbelah dan berlawanan dengan tangkai daun (petiol), serta membentuk seperti “telinga” pada klipeoli. Terkadang terus berkembang menjadi sayap di sekitar bagian atas klipeolus.
Bunga berwarna putih. Pembungaan dimulai sejak adanya beberapa ruas (intermodal) pada tiap-tiap nodus (buku). Dua bagian pada setiap bunga berkembang pada suatu kantong udara (alveolus) yang berbeda. Alveoli tersebut mungkin ukurannya tidak sama dan terletak pada tempat yang berbeda di batang. Kuntum bunga muncul pada dasar alveoli. Setiap bunga berlawanan oleh suatu brakteola. Bunga jarang kleistogamus (menyerbuk tidak terbuka) dan terkadang heterostilus. Kelopak biasanya terpotong. Polennya 1-, 2-, atau 3- porat (kolporat) dan sering 1,2,atau 3 visikel sitoplasma yang besar.
Buah berkembang dalam alveolus dan memanjat pada dasarnya menjadi menonjol keluar hanya setelah masak. Buahnya disebut buah beri, bulat, berwarna oranye.

KANDUNGAN SENYAWA
Komposisi dan kandungan senyawa aktif sarang semut ditampilkan pada tabel dibawah.
Senyawa
Kadar
Energi
350,52 Kkal/100 g
Kadar air
4,54 g/100 g
Kadar abu
11,13 g/100 g
Kadar lemak
2,64 g/100 g
Kadar protein
2,75 g/100 g
Kadar karbohidrat
78,94 g/100 g
Tokoferol
31,34 mg/100 g
Total fenol
0,25 g/100 g
Kalsium (Ca)
0.37 g/100 g
Natrium (Na)
68,58 mg/100 g
Kalium (K)
3,61 g/100 g
Seng (Zn)
1,36 mg/100 g
Besi (Fe)
29,24 mg/100 g
Fosfor (P)
0,99 g/100 g
Magnesium (Mg)
1,50 g/100 g

EFEK FARMAKOLOGI
Berikut adalah keterangan singkat beberapa senyawa bermanfaat yang terkandung dalam Sarang Semut:
Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Selain itu, flavonoid berfungsi untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, antinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik. Flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Fungsi flavonoid sebagai anti virus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV /AIDS dan virus herpes. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperi asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan perionditis (radang, jaringan ikat penyangga akar gigi). Penelitian-penelitian mutakhir telah mengungkap fungsi-fungsi lain dari flavonoid, tidak saja untuk pencegahan, tetapi juga untuk pengobatan kanker. Banyak mekanisme kerja dari flavonoid yang sudah terungkap, misalnya inaktivasi karsinogen, antiprofilisasi, penghambatan siklus sel, induksi apaoptosis, diferensiasi, inhibisi angiogenesis, serta pembalikan resistensi multi-obat atau kombinasi dari mekanisme-mekanisme tersebut. Kemampuan sarang semut secara empiris untuk pengobatan berbagai jenis kanker atau tumor, TBC, dan encok/rematik diduga kuat berkaitan dengan kandungan flavonoid di dalam Sarang Semut. Hasil analisis penghambatan aktivitas enzim xanthine oxidase oleh ekstrak tumbuhan Sarang Semut menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan ini dapat menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase dengan aktivitas yang setara dengan allopurinol, obat komersial yang digunakan untuk pengobatan asam urat. Pada kadar yang sesuai, flavonoid memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit termasuk penyakit jantung, diabetes, tumor, dll. Flavonoid juga membantu mencegah aterosklerosis atau penyakit yang ditandai dengan pengendapan lemak dalam dinding arteri. Deposisi tersebut mempersempit arteri dan dengan demikian menghambat aliran darah ke organ-organ vital tubuh seperti jantung dan otak. 
Tanin merupakan astrigen yang mengikat dan mengendapkan protein berlebih dalam tubuh. Dalam bidang pengobatan, tanin digunakan untuk mengobati diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir. Karena itu kemampuan Sarang Semut secara empiris untuk pengobatan, misalnya untuk pengobatan ambeien (wasir) dan mimisan diduga kuat berkaitan dengan kandungan zat ini.
Polifenol adalah asam fenolik dan flavonoid. Polifenol tanaman berasa pahit yang dapat mengikat dan mengendapkan protein. Khasiat dari polifenol adalah anti mikroba dan menurunkan kadar gula darah. Asam fenolik merupakan kelas dari antioksidan atau senyawa yang menghilangkan radikal bebas. Molekul yang tidak stabil ini adalah produksi dari metabolisme normal yang menyumbat pembuluh darah dan mengakibatkan perubahan pada DNA yang dapat menimbulkan kanker dan penyakit lain.
Tokoferol (vitamin E) sekitar 313 ppm. Analisis antioksidan dari ekstrak kasar tumbuhan Sarang Semut dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antioksidan sedang, yaitu diperoleh nilai IC50 sebesar 48,6 ppm.
Sementara alfa-tokoferol yang merupakan antioksidan kuat dengan nilai IC 50 diperoleh angka sebesar 5,1 ppm. IC50 merupakan konsentrasi dari antioksidan yang dapat meredam atau menghambat 50% radikal bebas. Semakin kecil nilai IC50 dari suatu antioksidan maka semakin kuat antioksidan tersebut. Alfa-tokoferol pada konsentrasi 12 ppm telah mampu meredam radikal bebas sebanyak 96% dan persentase inhibisi ini tetap konstan untuk konsentrasi-konsentrasi yang lebih tinggi dari 12 ppm. Hasil penelitian ini mempunyai makna bahwa alfa-tokoferol pada konsentrasi rendah pun telah memiliki aktivitas peredam.
Magnesium memiliki peranan dalam fungsi tulang, hati, otot, transfer air intraseluler, keseimbangan basa, dan aktivitas neuromuseluler. Fungsi-fungsi mineral tersebut dapat menjelaskan beberapa khasiat lain dari Sarang Semut , misalnya, khasiat dalam membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan peredaran darah, mengobati migren, gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, serta memulihkan gairah seksual.
Kalsium berfungsi dalam kerja jantung, implus saraf, dan pembekuan darah.
Besi berfungsi dalam pembentukan hemoglobin, transporoksigen, aktivor enzim.
Fosfor berfungsi dalam penyerapan kalsium dan produksi energi.
Natrium memilki peranan dalam keseimbangan elektrolit, volume cairan tubuh, dan implus saraf, dan kesimbangan asam-basa. Seng memiliki fungsi dalam sintesis protein fungsi seksual, penyimpanan insulin, metabolisme karbohidrat, dan penyembuhan luka.
Natrium memiliki peranan dalam kesetimbangan elektrolit, volume cairan tubuh, dan impuls saraf. Kalium berfungsi dalam ritme jantung, impuls saraf, dan keseimbangan asam-basa. Seng memiliki fungsi dalam sintesis protein, fungsi seksual, penyimpanan insulin, metabolisme karbohidrat, dan penyembuhan luka. Sementara Magnesium memiliki peranan dalam fungsi tulang, hati, otot, transfer air intraseluler, keseimbangan basa, dan aktivitas neuromuskuler.
Fungsi-fungsi mineral tersebut dapat menjelaskan beberapa khasiat lain dari Sarang Semut, misalnya khasiatnya dalam membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan haid dan mengobati keputihan, melancarkan peredaran darah, mengobati migren (sakit kepala sebelah), gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, memulihkan gairah seksual, meningkatkan dan memperlancar produksi air susu ibu (ASI), memulihkan kesehatan wanita setelah persalinan, stroke berat dan ringan, membantu mengobati lupus, menghilangkan benjolan-benjolan pada bagian tubuh, gangguan ginjal dan prostat, tuberkulosis dan masalah paru-paru, ambeien (Wasir) baru maupun lama, sakit kepala sebelah (Migrain), rematik (Sakit pada persendian), pegal linu, nyeri otot, dan melancarkan peredaran darah, meningkatkan vitalitas, memperbaiki dan meningkatkan stamina tubuh. Tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) dianggap mampu mengatasi kanker, asam urat, liver, stroke, jantung, wasir (ambien), nyeri punggung, alergi, sebagai tonikum hingga meningkatkan gairah seksual (Trubus 2006).
Subroto dan Saputro (2006), mengungkapkan bahwa senyawa aktif yang terkandung dalam sarang semut itu adalah flavonoid, tanin, dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Flavonoid merupakan antioksidan alam yang mampu bertindak sebagai pereduksi radikal hidroksil, superoksida dan radikal peroksil (Harun & Syari 2002). Selain itu dalam sarang semut juga ditemukan kandungan senyawa yang bermanfaat lainnya, seperti tokoferol, magnesium, kalsium, besi, fosfor, natrium, dan seng. Senyawa aktif polifenol yang terkandung dalam sarang semut memiliki banyak khasiat, yaitu sebagai antimikroba, antidiabetes, dan antikanker. Kandungan 313 ppm tokoferol yang meredam 96% radikal bebas pada konsentrasi 12 ppm (Subroto & Saputro 2006).
   Berdasarkan uji toksisitas akut ekstrak air tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) terhadap histologi organ hati mencit oleh Arif Soeksmanto, Partomuan Simanjuntak, dan Muhammad Ahkam Subroto di Laboratorium Biofarmaka, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pemberian dosis ekstrak air tanaman sarang semut tidak menimbulkan kelainan yang menyebabkan hewan sakit.
Dalam uji toksisitas akut itu, digunakan 40 ekor mencit (Mus musculus) dari strain balb/c jantan yang berumur sekitar 2 bulan dengan berat ± 16 g. Mencit tersebut ditempatkan dalam 4 buah bak plastik dengan pemberian pakan dan minum secara ad libitum. Kepada mencit tersebut diberikan 3 tingkatan perlakuan dosis yaitu 37,5; 375 dan 3750 mg/kg bb (berat badan) ekstrak air tanaman sarang semut, sedangkan kelompok kontrol hanya diberi akuades. Pengamatan perkembangan kerusakan diamati pada hari ke 5, 12, 19 dan 26.
Penampakan organ-organ hati, ginjal, paru dan jantung yang diamati tampak normal. Demikian pula pada pengamatan mikroskopis, menunjukkan pemberian dosis 37,5 mg/kg bb tanaman sarang semut, tidak menyebabkan adanya kelainan yang berarti pada organ. Terjadinya pneumonia pada paru-paru akibat pemeliharaan yang kurang baik dan tidak terkait dengan pemberian ekstrak air tanaman sarang semut. Diduga dosis 37,5 mg/kg bb tanaman sarang semut tidak mengganggu kerja unit-unit fungsional hati. Ketika dosis ekstrak ditingkatkan menjadi 375 mg/kg bb mulai tampak terjadi gangguan aktivitas dari unit fungsional hati.
Berdasarkan penelitian pengaruh pemberian infusa tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum) terhadap gambaran histologi pankreas pada tikus (Rattus norvegicus) diabetes terinduksi aloksan oleh Mutiana Muspita Jeli, SN. Nurul Makiyah Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini dengan eksperimental in vivo pada hewan uji tikus (Rattus norvegicus) diabetes terinduksi aloksa. Ttiga kelompok perlakuan masing - masing menggunakan infusa H. formicarum dosis 1,26 gr/kg BB, H. formicarum dosis 2,52 gr/kg BB, dan H. formicarum dosis 5,04 gr/kg BB serta tiga kelompok pembanding masing-masing kontrol normal yaitu tanpa perlakuan, kelompok kontrol negatif yaitu dengan aloksan dan kontrol positif dengan glibenklamid 0,5 mg/kgBB.
H. formicarum telah membantu proses perbaikan kerusakan pada pankreas akibat induksi aloksan terbukti dengan adanya peningkatan pada diameter pulau Langerhans dan jumlah sel β. rata-rata diameter pulau Langerhans pada kelompok H. Formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami perbaikan lebih baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya yaitu dengan rerata diameter pulau Langerhans 62,2 μm. Data tersebut menunjukkan bahwa diameter pulau langerhans pada kelompok H. formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan yang lain dan kelompok kontrol negatif, tetapi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok glibenklamid. Begitu pula dengan jumlah sel β dalam pulau Langerhans pada kelompok H. formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami peningkatan lebih banyak dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya yaitu dengan jumlah sel β 34 buah. menunjukkan bahwa jumlah sel β dalam pulau langerhans pada kelompok H.  formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan yang lain dan kelompok kontrol negatif, tetapi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok glibenklamid.
Berdasarkan penelitian uji toksisitas ekstrak etanol sarang semut lokal aceh (Mymercodia sp.) dengan metode bslt terhadap larva udang Artemia salina Leach oleh  Frengki, Roslizawaty, dan Desi Pertiwi dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ekstrak etanol sarang semut pada percobaan ini memiliki potensi toksisitas akut menurut metode BSLT sebagaimana sarang semut asal Papua.
Sebanyak 10 larva udang dalam 100 μl air laut dimasukkan ke dalam vial uji, kemudian ditambahkan 100 μl larutan sampel DMSO pada konsentrasi 500, 250, 100 dan 50 μg/ml. Pengujian terhadap ekstrak etanol sarang semut lokal (Aceh) menunjukkan harga LC50 sebesar 61,11 μg/ml, sedangkan uji BSLT ekstrak etanol sarang semut asal Papua diperoleh LC50 sebesar 37,03 μg/ml (Bustanussalam, 2010). Penelitian menunjukkan bahwa sarang semut asal Aceh memiliki kandungan senyawa aktif berbeda dibandingkan sarang semut Papua, namun keduanya memiliki sifat toksisitas akut yang hampir sama terhadap larva udang Artemia salina Leach menurut metode BSLT.

Wednesday, March 18, 2015

Tablet Salut Gula Dan Film

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet inti adalah tablet inti yang khusus untuk disalut, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan tujuan tertentu. Tablet salut film adalah tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna (Depkes RI, 1979).
Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Supaya dapat menahan bantingan selama proses penyalutan tablet inti harus memiliki resistensi dan kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut yang berputar terus menerus selama proses berlangsung. Kekerasan yang cukup juga akan berperanan memperlambat penyalut pada waktu dilakukan penyalutan dan sebaiknya permukaan tablet berbentuk. Bentuk tablet inti yang ideal untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat atau bikonvekoval. Tinggi antara permukaan tablet sedapat mungkin agak rendah. Pada bentuk ini sesudah dibasahi dengan cairan penyalut, kemungkinan hanya terjadi lengketan pada satu titik tertentu saja dari sisi tablet dan perlekatan ini hanya akan berlangsung selama periode waktu relative singkat karena segera terlepas lagi pada waktu terjadi gerakan panci penyalut. Kelebihan salut film dibanding dengan salut gula ialah lebih tahan terhadap kerusakan akibat goresan, bahan yang dibutuhkan lebih sedikit dan waktu pembuatannya lebih sedikit (Ansel, 1989).
Beberapa keuntungan penggunaan teknologi film coating yaitu :
(1)   waktu proses yang lebih cepat
(2)   pengurangan luas area produksi
(3)   peningkatan berat yang minimum
(4)   otomatisasi, seiring dengan perkembangan teknologi proses penyalutan lapis tipis dapat diotomatisasi (Basri, 2009).
Dalam penyalutan lapis film pada tablet biasanya mengandung jenis-jenis bahan seperti polimer (pembentukan selaput), plasticizer, surfaktan, pewarna, pemanis/perasa/pengharum, pengkilap, dan pelarut. Bahan polimer yang digunakan adalah hidroksipropil metilselulosa (HPMC). Polimer ini merupakan suatu bahan pilihan untuk sistem suspensi udara dan sistem panci penyalut dengan penyemprotan (Lachman, et. al., 1994).
Jika hanya menggunakan polimer saja akan dihasilkan lapisan film yang rapuh, mudah pecah, dan mudah terkelupas, untuk memperbaiki hal tersebut, diperlukan plasticizer untuk mempertinggi keluwesan dan fleksibilitas dari lapisan tipis penyalut tersebut (Basri, 2009).
Tablet inti (core) yang akan disalut haruslah memenuhi persyaratan tertentu, karena selama proses penyalutan akan terjadi gerakan dan bantingan tablet inti secara terus menerus selama beberapa waktu. Kerapuhan tablet inti harus sekecil mungkin. Kerapuhan yang tinggi akan menyebabkan terbentuknya partikel halus dan kasar yang akan dapat menempel pada permukaan tablet selama proses penyalutan, tempelan tersebut dengan sendirinya akan menyebabkan cacat pada permukaan tablet yang disalut. Tablet inti harus hancur dengan cepat di dalam lambung atau usus sesudah penyalut terlarut (untuk tablet yang entero soluble). Pada umumnya tablet inti yang disalut akan hancur lebih lama jika dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut. Perubahan waktu hancur tersebut disebabkan karena pada waktu penyalutan, pori pada permukaan tablet ditutupi oleh larutan penyalut sehingga akan memperlambat penetrasi cairan pada waktu hancur (Basri, 2009).
Persyaratan Tablet yang Sudah Disalut
Tablet yang disalut haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan, diantaranya:
-          Permukaan tablet harus benar-benar licin
-          Lapisan penyalut harus stabil dan tidak cacat
-          Pewarnaan yang homogen pada lapisan tipis yang berwarna dan tidak boleh terjadi migrasi zat warna ke dalam inti tablet
-          Lapisan penyalut tidak boleh menunjukkan sifat mudah pecah dan retak
-          Penyalutan harus dapat melindungi tablet inti terhadap pengaruh udara kelembaban dan cahaya.
-          Penyalut harus mempunyai rasa yang menyenangkan dan dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari tablet inti
-          Pada umumnya lapisan penyalut harus melarut dalam media cairan lambung dengan waktu sesingkat mungkin
-          Penyalutan yang digunakan tidak boleh merusak atau mengurangi aktivitas bahan obat (Martin, et. al., 1993).
-           
Prinsip-Prinsip Penyalutan Tablet
            Pemberian salut pada tablet yang merupakan langkah tambahan dalam proses pembuatan dan menaikkan biaya produksi. Dengan demikian, keputusan untuk menyalut tablet biasanya didasarkan atas salah satu atau beberapa tujuan berikut ini:
1.      Untuk menutupi rasa, bau, atau warna obat.
2.      Untuk memberikan perlindungan fisik dan kimia pada obat.
3.      Untuk mengendalikan penglepasan obat dari tablet.
4.      Untuk melindungi obat dari suasana asam lambung, dengan menyalutnya dengan salut enterik tahan asam.
5.      Untuk menggabungkan obat lain atau membantu formula dalam penyalutan untuk menghindari tidak tercampurnya obat secara kimia atau untuk menjamin terselenggaranya penglepasan obat secara berurutan.
6.      Untuk memperbaiki penampilan obat dengan menggunakan warna khusus dan pencetakan kontras (Barkley, et.al., 2006).
Ada tiga komponen utama yang penting dalam penyalutan tablet yaitu :
1.      Sifat-sifat tablet
Tablet-tablet yang akan disalut harus mempunyai sifat fisik tertentu yang sesuai. Dalam proses penyalutan, tablet-tablet bergulir di dalam panci atau berhamburan dalam aliran udara dari suatu penyalut suspensi udara ketika proses penyalutan berlangsung. Agar mampu menahan benturan sesama tablet atau benturan tablet dengan dinding panci, maka tablet harus tahan terhadap abrasi dan gumpil. Permukaan tablet yang rapuh, yang lunak oleh pemanasan, atau yang rusak oleh campuran penyalut, cenderung menjadi kasar pada tahap awal proses penyalutan dan tidak cocok untuk disalut dengan lapisan tipis. Bahan penyalut yang membentuk lapisan tipis melekat ke seluruh permukaan yang terpapar, sehingga permukaan yang tidak sempurna akan disalut dan tidak dibuang. Mutu dari penyalut lapisan tipis yang melekat pada tablet cetak biasanya lebih banyak tergantung pada mutu tablet awal yang dipakai dalam proses, daripada waktu yang dibutuhkan dalam penyalutan gula. Penyalutan gula mengandung banyak zat padat, sehingga lebih lambat mengering dan dapat mengisi banyak cacat kecil di permukaan tablet yang dapat terjadi pada tahap awal proses penyalutan selain permukaan yang halus, maka bentuk fisik tablet juga sangat penting. Bentuk ideal tablet yang akan disalut adalah bulat, yang memungkinkan tablet tersebut bergulir bebas di dalam panci penyalut, dengan kotak sekecil mungkin sesama tablet (Augsburger & Hoag, 2008).

2.      Proses penyalutan
Prinsip penyalutan tablet relatif sederhana. Penyalutan tablet adalah pemakaian suatu campuran penyalut pada sejumlah tablet yang bergerak dengan menggunakan udara panas untuk memepermudah penguapan pelarut. Distribusi dari penyalut dilakukan dengan menggerakkan tablet-tablet tersebut, baik secara tegak lurus (panci penyalut) maupun secara vertikal (alat penyalut suspensi udara) terhadap pemakaian campuran penyalut (Augsburger & Hoag, 2008).
Tergantung pada peralatan dan fasilitas yang tersedia, operasi penyalutan lapisan tipis dilakukan dengan menggunakan panci penyalut untuk penyalutan. Cara penambahan larutan penyalut dapat dilakukan dengan cara penuangan seperti halnya pada penyalutan gula atau dengan cara penyemprotan dengan alat khusus. Baik penuangan ataupun penyemprotan dapat dilakukan secara terus-menerus atau dengan diselang-seling (intermittent) (Basri, 2009).
a. Cara Penuangan
Penuangan dapat dilakukan dalam panci penyalut konvensional yang diberi penyangga agar perputaran tablet bisa berlangsung dengan baik dan untuk mencegah penggelinciran tablet dalam panci selama proses penyalutan (Basri, 2009).
b. Cara Penyemprotan
Cara umum yang dilakukan untuk penyalutan lapisan tipis ialah cara penyemprotan. Cara penyemprotan tidak selalu mudah, karena untuk proses penyalutan yang baik dibutuhkan optimisasi antara peralatan, formulasi dan variabel lain selama proses penyalutan (Basri, 2009).
1)            Top Spray (Granulator mode)
Meskipun itu tidak dapat digunakan untuk tablet, top spray granulator dapat digunakan untuk penyalutan. Partikel kecil dan berbagai bentuk film dalam proses ini bukan seperti uniform (bentuk seragam), tapi untuk pelepasannya tidak tergantung membrane tickness atau perfection. Cara ini adalah mudah dan sederhana. Substrat cair dimasukan pada mulut pipa, kemudian penyemprot listrik (elektronik) disemprotkan ke bahan (material) (Basri, 2009).
2)            Bottom Spray ( Wurster)
Ditemukan kira-kira 25 tahun yang lalu yang terbukti telah berhasil untuk penyalutan tablet. Bentuk aliran disebabkan oleh sebuah partisi dan per lubang plate yang dikontrol oleh air flow. Sebagian besar udara dialirkan memalui sekat dan terbentuk fluidasi. Ketika tablet keluar dari sekat dan masuk ke zona perluasan kecepatan udara bebrkurang dan inti-inti jatuh diluar sekat. Udara dari bawah bertindak sebagai penyangga sekaligus mengarahkan posisi penyalutan (Basri, 2009).
-          Peralatan
Sebagian besar proses penyalutan menggunakan salah satu dari tiga jenis peralatan berikut ini: (1) panci penyalut standar, (2) panci penyalut berlubang, atau (3) penyalut bahan cair (suspensi udara). Kecenderungan umumnya mengarah pada sistem efisiensi energi otomatis untuk mempersingkat total waktu penyalutan, dan mengurangi partisipasi operator dalam proses penyalutan (Augsburger & Hoag, 2008).
-          Tolak ukur
Difokuskan pada panci penyalut berlubang, karena alat ini dipakai secara luas dalam industri. Tolak ukur yang digunakan meliputi:
Kapasitas udara, A (T,H).
Nilai ini menggambarkan jumlah air atau pelarut yang dapat dihilangkan selama proses penyalutan, yang tergantung pada jumlah aliran udara melalui tumpukan tablet (CFM), temperatur udara (T), dan jumlah air yang terkandung dalam udara masuk (H); (2) komposisi penyalut, (3) luas permukaan tablet, dan (4) efisiensi peralatan. Hubungan ini dapat digambarkan dengan menggunakan diagram psikrometris. Diagram tersebut secara grafik memperlihatkan hubungan antara temperatur udara dengan jumlah air yang terkandung dalam udara pada berbagai kelembapan relatif. Selama pelaksanaan penyalutan, air menguap dari larutan penyalut yang dipakai, dan temperatur udara turn. Temperatur udara yang keluar tergantung pada jumlah air yang dikandung (Augsburger & Hoag, 2008).
Komposisi Penyalut, C(S).
Penyalut mengandung bahan yang akan dilekatkan ke permukaan tablet, dan juga mengandung pelarut yang bertindak sebagai pembawa bahan-bahan tersebut. Pelarut ini harus dihilangkan selama proses penyalutan. Udara panas yang masuk memberikan panas untuk menguapkan air. Udara keluar menjadi lebih dingin dan mengandung air lebih banyak, karena penguapan dari pelarut pada campuran penyalut tadi. Bila air digunakan pada suatu permukaan yang tidak tembus, maka hubungan antara udara masuk dan udara keluar pada laju penyemprotan tertentu dapat ditunjukkan dengan jelas. Karakteristik pengeringan dari lapisan tipis juga harus dipertimbangkan dalam penetapan laju penggunaan. Umumnya campuran penyalut yang bahan dasarnya air dan lebih kental, menggunakan gerakan tablet di luar daerah penggunaan untuk menghasilkan penyebaran parsial bahan penyalut, periode pengeringan yang lebih panjang diperlukan agar dapat digunakan penyalut secara berselang waktu. Formula pengeringan tipis dapat mengering dengan cepat pada permukaan tablet, sehingga memungkinkan pemakaian konstan dengan atomisasi yang efisien dari larutan penyalut (Augsburger & Hoag, 2008).
Luas Permukaan Tablet, (pSA).
Telah diuraikan mengenai mutu tablet yang perlu untuk penyalutan, tetapi ukuran tablet dan adanya debossed features juga mempengaruhi kondisi penyalutan. Luas permukaan total per satuan berat turun dengan cepat dari tablet kecil ke tablet yang lebih besar. Penggunaan suatu lapisan tipis dengan ketebalan yang sama memerlukan lebih sedikit campuran penyalut. Sebagai contoh, pada penyalutan lapis tipis terhadap 20 kg tablet pada suatu panci penyalut, tablet bulat cembung berdiameter 0,281 inchi dengan ketebalan 0,114 inci memerlukan penyalut 40 % lebih banyak, dibandingkan dengan diameter 0,483 inchi dan ketebalan 0,202 inchi (Augsburger & Hoag, 2008).
Dalam proses penyalutan, hanya sebagian dari seluruh ruas permukaan (pSA) yang tesalut. Keseimbangan terdiri dari tablet yang telah kering dan tersalut sebagian serta tablet kering yang akan disalut lebih lanjut. Penyalutan parsial yang berkesinambungan dan daur ulang suatu saat akan menghasilkan tablet tersalut sempurna (Augsburger & Hoag, 2008).
Penambahan cap/ tanda pengenal produk atau intagliation menambah rumitnya proses penyalutan. Bila bagian-bagian yang akan disalut ukurannya lebih kecil, maka ukuran tetes penyalut yang akan diatomisasi juga harus lebih kecil dan lebih terkontrol dengan baik (Augsburger & Hoag, 2008).
Efisiensi Peralatan, E.
Penyalut tablet menggunakan ungkapan ”efisiensi penyalutan” , suatu nilai yang diperoleh dengan membagi kenaikan bersih dari berat tablet tersalut dengan berat total bahan penyalut yang tidak menguap yang diberikan ke tablet. Idealnya 90-95 % bahan penyalut lapisan tipis yang dipakai harus ada pada permukaan tablet. Bila kurang dari itu, berarti tindakan penyalutan haru diperbaiki lagi. Efisisensi penyalutan untuk bahan penyalut gula yang konvensional jauh lebih sedikit, dan biasanya nilai 60% dapat diterima. Perbedaan yang besar dalam efisiensi penyalutan antara penyalut lapisan tipis dengan gula berhubungan dengan jumlah bahan pelapis yang terkumpul pada dinding panci. Pada proses penyalutan lapisan tipis yang efisien hanya sedikit saja bahan penyalut yang terkumpul di dinding panci, tetapi pada proses penyalutan dengan gula, dinding panci juga akan terlapisi oleh gula itu dengan tebalnya. Penyebab umum dari rendahnya efisiensi penyalutan dengan lapisan tipis ialah bahwa laju pemakaian terlalu lambat untuk kondisi penyalutan (permukaan tablet yang luas, aliran udara yang cepat, dan temperatur yang tinggi). Hal ini mengakibatkan sebagian dari campuran penyalut mengering sebelum mencapai permukaan tablet, sehingga terbuang sebagai debu (Augsburger & Hoag, 2008).
Fasilitas dan Peralatan Bantu.
Fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan penyalutan haruslah dirancang untuk memenuhi persyaratan Good Manufacturing Practices (GMPs), seperti yang tercantum dalam revisi terakhir Code of Federal Regulation title 21, part 211. Diperlukan ruang yang tidak hanya cukup untuk peralatan penyalut, tetapi juga untuk penyiapan larutan dan penyimpanan dalam proses (Augsburger & Hoag, 2008).
Penyalutan tergantung pada sifat pelarut. Bila mungkin terjadi penumpukan pelarut organis yang mudah meledak, atau toksisi, apakah itu selama proses penyiapan larutan ataupun penyalutan, maka diperlukan penrilasi listrik khusus yang tahan ledakan (Augsburger & Hoag, 2008).
           Ada peralatan lain yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan penyalutan. Penyiapan memerlukan tangki, penyaring, dan pengaduk. Suatu penggerus koloid atau penggerus bola mungkin diperlukan untuk dispersi yang homogen dari bahan padat yang tidak larut didalam cairan campuran penyalut. Tangki pelapis mungkin diperlukan untuk menjaga agar beberapa larutan tetap dalam temperatur tinggi (Augsburger & Hoag, 2008).
           Cairan pelarut dapat diisikan ke sistem pipa atomisasi dari peralatan penyalut, dengan menggunakan tangki bertekanan yang dapat dipindah-pindahkan atau berbagai sistem pompa (Augsburger & Hoag, 2008).
-          Fasilitas dan peralatan bantu
Fasilitas yang diperlukan untuk pelaksanaan penyalutan haruslah dirancang untuk memenuhi persyaratan Good Manufacturing Practises (GMPs). Diperlukan ruang yang tidak hanya cukup untuk peralatan penyalut, tetapi juga untuk penyiapan larutan dan penyimpanan dalam proses (Augsburger & Hoag, 2008).
-          Otomatisasi
Dalam 6 atau 8 tahun terakhir ini, otomatisasi telah dicapai dalam sistem penyalutan gula dan sistem penyalutan lapisan tipis (baik menggunakan air maupun tidak menggunakan air). Untuk proses otomatis, maka panci yang berlubang-lubang lebih cocok dibanding panci penyalut konvensional yang lama, karena efisiensinya lebih baik (Augsburger & Hoag, 2008).
3.      Susunan penyalutan

Proses Penyalutan
Proses penyalutan tablet terbagi atas beberapa tahap yaitu: protective, gum syrup, built up syrup, smoothing syrup, colouring syrup, dan polishing. Lapisan penutup merupakan tahap pemberian lapisan pelindung agar air dari larutan berikutnya tidak masuk ke dalam tablet inti. Lapisan elastis merupakan lapisan dasar dari salut gula yang bertujuan untuk melapisi gum syrup agar tablet tidak retak selama proses atau selama penyimpanan. Bahan-bahan yang akan dituang diaduk lebih dahulu, kemudian masukkan CaCO3 secukupnya, aduk kembali sampai semua serbuk melapisi tablet baru kemudian dialirkan udara panas. Built up syrup merupakan proses pemberian lapisan sebenarnya dari salut gula, sedangkan smoothing syrup bertujuan untuk membuat permukaan tablet licin sehingga zat warna dapat melapisi tablet secara merata. Colouring bertujuan untuk memberikan warna pada permukaan tablet dan polishing merupakan proses pengkilatan permukaan tablet sehingga menjadi mengkilat (Asmarini, 2007).
Penyalutan dengan Lapisan Tipis
"  Metode Panci Tuang
Metode ini cukup lambat, dan sangat tergantung pada keterampilan serta teknik dari operator untuk mengimbangi tahap pembuatan produk yang dapat diterima. Tablet yang akan dilapisi dengan lapisan tipis melalui proses panci tuang hampir selalu memerlukan tahap tambahan untuk pengeringan dalam rangka membuang pelarut laten. Penyalut lapisan tipis yang menggunakan air sebagai bahan dasar tidak cocok dengan metode pemakaian ini, karena keadaan setempat yang terlalu basah yang dijumpai pada proses panci tuang akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari erosi permukaan sampai ketidakstabilan produk yang disebabkan tingginya tingkat kelembapan laten dalam inti tablet (Lachman, et.al., 1994).
"  Metode Panci Semprot
Dalam rangka memperbaiki efisiensi proses pelapisan tipis digunakan alat penyemprot. Penyemprotan memeberikan banyak kegunaan terhadap proses tersebut, dan memungkinkan pengawasan otomatis dari pemakaian cairan. Corak penyemprot dipilih untuk memberikan suatu pita kontinu melintasi permukaan tumpukan tablet (Lachman, et.al., 1994).
"  Variabel Proses
Variabel-variabel yang perlu dikendalikan dalam proses penyalutan lapisan tipis menggunakan cara panci penyemprot adalah:
  1. Variabel Panci
-          rancangan panci/pengaturan pergerakan cairan,
-          kecepatan,
-          muatan panci.
  1. Udara Proses
-          kualitas udara,
-          temperature,
-          kecepatan aliran udara/volume/keseimbangan.
  1. Variabel Penyemprot
-          laju penyemprotan,
-          derajat atomisasi,
-          pola penyemprotan,
-          jarak mulut pipa penyemprot ke permukaan tumpukan tablet (Lachman, et.al., 1994).
"  Proses Fluidized Bed
Sistem fluidized bed telah berhasil diterapkan dengan baik untuk penyalutan cepat dari tablet, granul dan kapsul. Karena digunakan udara untuk menggerakkan tablet di dalam proses penyalutan, maka ada beberapa pengawasan proses yang khas bagi penyalut suspensi udara. Rancangan ruang, bersamaan dengan udara proses, mengendalikan corak fluidasi. Bentuk, ukuran dan kerapatan tablet, serta beban kuantitas mempengaruhi kemampuan masa tablet untuk mengalami fluidasi (Lachman, et.al., 1994).
Larutan selaput penyalut yang dapat menghasilkan penyalutan pada tablet biasanya mengandung jenis-jenis bahan sebagai berikut:
  1. Pembentukan selaput : mampu menghasilkan lapisan tipis yang halus, dapat diproduksi kembali di bawah kondisi penyalutan biasa dan dapat untuk tablet dengan berbagai bentuk. Contoh: selulosa asetat ftalat.
  2. Bahan logam campuran : memungkinkan kelarutan dalam air atau permeabilitas air ke dalam selaput agar pasti dapat ditembus oleh cairan tubuh dan kemungkinan ketersediaan terapeutik obatnya.
  3. Plasticizer : untuk mendapatkan fleksibilitas dan elastisitas dari penyalutan yang berarti memperpanjang umur tablet. Contoh: minyak jarak.
  4. Surfaktan : untuk meningkatkan daya penyebaran film selama penggunaanya. Contoh: derivat polioksietilen sorbitan.
  5. Opaquant dan pewarna : membuat penampilan tablet menjadi manis dank has. Contoh: opaquant, titandioksid; pewarna, zat warna F.D dan C atau zat warna D dan C.
  6. Pemanis, perasa, dan pengharum : untuk meningkatkan diterimanya tablet oleh pasien. Contoh: pemanis, sakarin; perasa dan pengharum, vanili.
  7. Pengkilap : memungkinkan berkilaunya tablet tanpa memisahkan dari pekerjaan pengkilapan. Contoh: lilin tawon.
  8. Pelarut yang mudah menguap : memungkinkan penyebaran komponen-komponen lain di sekitar tablet sambil mempercepat penguapan agar pekerjaan lebih efektif dan lebih cepat. Contoh: campuran alkohol aseton (Lachman, et.al., 1994).

Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Penyalutan Lapis Tipis
Suatu bahan penyalut lapisan tipis yang ideal harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1.      Larut dalam pelarut yang digunakan untuk persiapan penyalutan.
2.      Larut dalam keadaan tertentu yang dimaksud, misalnya kelarutan yang mudah dalam air, lambat larut dalam air atau kelarutan yang tergantung pada pH (lapisan enterik).
3.      Kemampuan untuk menghasilkan produk yang tampak anggun.
4.      Stabilitas dalam keadaan panas, cahaya, kelembapan, udara dan substrat yang akan disalut. Sifat-sifat lapisan tipis harus tidak berubah dengan berlalunya waktu.
5.      Tidak memiliki warna, rasa ataupun bau.
6.      Serasi dengan aditif larutan penyalut pada umumnya.
7.      Tidak toksis, tidak mempunyai kegiatan farmakologis dan mudah dipakai  ke partikel atau tablet.
8.      Tahan retakan dan dilengkapi dengan pelindung obat terhadap kelembapan, cahaya dan bau bila perlu.
9.      Tidak ada jembatan ataupun pengisian permukaan tablet yang tidak ditatah oleh bahan pembentuk lapisan.
10.  Prosedur pencetakan huruf/tanda/merk mudah dilakukan pada peralatan berkecepatan tinggi (Saifullah, 2007).
Pembentuk Lapisan Tipis
a.   Bahan Nonenterik, contoh :
-          Hidroksipropil metil selulosa,
-          Metil hidroksietilselulosa,
-          Etilselulosa,
-          Hidroksipropilselulosa,
-          Povidon,
-          Natrium karboksimetilselulosa,
-          Polietilen glikol (Saifullah, 2007).
b.   Bahan Enterik
Bahan penyalut enterik dari pil dan tablet yang dicetak sdah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Beberapa alasan penting untuk bahan penyalut enterik adalah sebagai berikut :
-          Untuk melindungi obat-obat yang tidak tahan asam terhadap cairan lambung, misalnya enzim-enzim dan beberapa antibiotik tertentu.
-          Untuk mencegah nyeri pada lambung atau mual karena iritasi dari suatu bahan obat, misalnya Natrium salisilat.
-          Untuk melepaskan obat agar didapat efek local di dalam uus, seperti antiseptik usus dapat melepaskan bentuk obatnya hanya di usus dan menghindari penyerapan sistemik dalam lambung.
-          Untuk melepaskan obat-obat yang diserap secara optimal di dalam usus halus sebagai penyerapan utamanya.
-           Untuk memberikan suatu komponen yang penglepasannya ditunda sebagai aksi ulang dari tablet (Saifullah, 2007).
            Suatu bahan penyalut enterik yang baik harus memilki sifat-sifat sebagai berikut :
1.      Tahan terhadap cairan lambung
2.      Rentan terhadap cairan usus dan permeable terhadap cairan usus
3.      Dapat bercampur dengan sebagian besar komponen larutan penyalut dan bahan dasar obat
4.      Stabil dalam bentuk tunggalnya atau di dalam larutan penyalut. Lapisan tipis ini tidak mudah berubah dalam penyimpanan
5.      Membentuk lapisan tipis (terus-menerus)
6.      Tidak toksik
7.      Biayanya murah
8.      Mudah dipakai tanpa harus menggunakan alat khusus
9.      Dapat dengan mudah dicetak, atau lapisan tipis dapat digunakan pada tablet yang tidak ditatah (Saifullah, 2007).
            Pemeriksaan waktu hancur tablet yang disalut enterik, menurut United State Pharmacopeia (USP), mengharuskan tablet tahan terhadap pengadukan dalam larutan pemeriksaan cairan lambung buatan pada temperatu 37 ± 2 o C (tanpa lempengan). Setelah satu jam terpapar dalam cairan lambung batan tersebut, tablet tidak memperhatikan bukti adanya daya hancur, keretakan atau kerapuhan. Kemudian ditambahkan suatu lempengan pada setiap tabung dan pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan cairan usus buatan yang dipertahankan pada temperatur 37 ± 2oC sebagai cairan pencelup, untuk satu metode pemeriksaan selama  2 jam atau dalam batas waktu yang tertera dalam monografinya. Jika seluruh tablet sudah hancur, pemeriksaan tablet sudah selesai. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur secara sempurna, pemeriksaan diulangi dengan menggunakan 12 tablet tambahan. Pemeriksaan daya hancur tablet dinyatakan selesai bila 16 dari 18 tablet dapat dihancurkan (Swarbrick & James, 1991).

Macam-macam Penyalutan
Penyalutan tablet dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1.   Tablet bersalut gula (sugar coating)
Tablet ini sering disebut dragee. Penyalutan dilakukan dengan larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan panci untuk mengkilapkan tablet diputar dengan motor penggerak yang dilengkapi dengan alat pengisap dan  sistem penhembus dengan udara panas (blower). Proses pembuatan tablet bersalut gula adalah sebagai berikut:
o   Subcoating (penyalutan dasar), yaitu proses pemberian larutan dasar dan pemberian serbuk salut apabila sebagian tablet kering
o   Smoothing (pelicinan), yaitu proses pembasahan ganti berganti dengan sirop pelicin dan pengeringan dari salut tablet menjadi bulat dan licin.
o   Coloring (pewarnaan), dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampurkan pada sirop pelicin.
o   Finishing, yaitu proses pengeringan salut sirop yang terakhir dengan cara perlahan-lahan sehingga memperoleh hasil akhir yang licin.
o   Polishing (pengilapan), dilakukan dengan menggunakan lapis tipis lilin yang licin (Aulton, 1988).
2.   Tablet bersalut kempa (press coating)
Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperti berikut, yaitu granul halus dan kering dikempa di sekitar tablet inti, sering disebut tablet dalam tablet (Aulton, 1988).
3.   Tablet bersalut selaput (film coating)
Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet. Sebagai zat penyalut digunakan Na CMC, Asetatftalat selulosa, Hidroksi etil selulosa dengan bermacam-macam perbandingan dalam campuran PEG dan Polivinilpirolidon dalam pelarut alkohol atau terdispersi dalam Isopropanol dengan tambahan Span dan Tween (Aulton, 1988).
4.   Tablet bersalut enterik (enteric coating)
Adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang relatif tidak larut dalam asam lambung, tetapi larut dalam usus halus. Penyalutan enterik dimaksudkan:
a.       Agar obat tidak mengiritasi perut
b.      Dikehendaki agar obat berkhasiat dalam usus seperti antelmintika
c.       Menghindari obat menjadi inaktif dalam cairan lambung, yaitu karena pH rendah atau dirusak enzim digestif dalam perut.
Sebagai bahan salut enterik adalah campuran serbuk lilin karnauba atau asam stearat dan serabut tumbuh-tumbuhan dari agar-agar atau kulit pohon elm. Bila tablet ditelan, serabut tersebut akan menghisap air, mengembang dan terjadi proses penghancuran. Dengan mengatur ratio serabut tumbuh-tumbuhan dan mengubah tebalnya salut, waktu hancur yang diperlukan dapat dikontrol (Aulton, 1988).
Masalah yang Timbul dalam Penyalutan
1.      Pengupilan (picking) adalah pelepasan fragmen lapis tipis penyalut dari permukaan tablet yang disalut.
Penyebabnya adalah :
-          Pengeringan yang tidak cukup baik
-          Penyemprotan yang dilakukan berlebihan
Pencegahannya :
-          Dengan menurunkan kecepatan penyemprotan
-          Meningkatkan suhu pengeringan, menurunkan konsentrasi larutan penyalut
-          Penambahan gula lebih dari 10% dari bobot polimer dalam larutan.
2.      Keretakan : terlihat selama penyalutan atau penyimpanan tablet yang sudah disalut.
                        Penyebabnya :
                        Tegangan di dalam lapisan penyalut lebih besar dari rentang dan adhesi dari larutan penyalut.
                        Pencegahannya :
-          Penambahan plasticizer lebih dari 20% berat HPMC
-          Menggunakan HPMC viskositas tinggi
-          Memperbaiki kerapuhan tablet inti
3.      Pembentukan jembatan : hal ini terjadi karena pengaruh adhesi pada permukaan tablet yang bergaris atau ada huruf logo yang terletak pada permukaan. Pencegahan dengan penambahan PEG 6000 dalam jumlah 20-30% dari berat HPMC.
4.      Burik (molting) : cacat dimana warna tidak terkontribusi secara homogen pada permukaan tablet. Pencegahannya dengan mendispersikan zat warna secara homogen dalam larutan penyalut.
5.      Pengelupasan (orange peel) merupakan tahap lanjut dari tahap pengupilan.
Penyebab :
-          Formula larutan penyalut yang tidak sesuai
-          Operasi penyalutan yang tidak baik
-          Terjadi penetesan larutan dari alat penyemprot
Pencegahan :
-          Menurunkan konsentrasi polimer
-          Menurunkan kecepatan penyemprotan
6.      Variasi warna antar tablet hal ini terjadi karena variasi antar tablet dari sejumlah tablet yang disalut.
Pencegahan :
-          Pengaturan formulasi larutan penyalut
-          Digunakan penyalutan dengan prinsip ”fluidized bed” (Aulton, 1988).
-           
Evaluasi Tablet Inti.
Evaluasi tablet inti meliputi:
a. Tensile Strengh
Belum ada satupun kompendia/farmakope yang mencantumkan cara pengukuran tensile strengh. Tensile strengh telah digunakan secara luas untuk mengukur kekuatan mekanik tablet. Tensile strengh adalah tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet dalam uji kompresi diametral (diametral compresion test) (Basri, 2009).
b.         Brittle Fracture index (BFI)
Dapat disimpulkan bahwa efek dekompresi pada material yang ditablet dan sangat tergantung pada kemampuan meterial untuk membebaskan energi setelah kompresi berlangsung. Material yang mampu membebaskan energi segera setelah kompresi berlangsung lebih sedikit mengalami laminasi/capping lebih kecil dibandingkan tablet yang dibuat dari serbuk (Basri, 2009)
c. Ketebalan Tablet
Agar mendapatkan tablet yang seragam tebalnya selama produksi dan diantara produksi dalam formula yang sama, harus dilakukan pengawasan supaya volume bahan yang diisikan dan tekanan yang diberikan tetap sama. Tablet dari hasil produksi yang sama dimana ukurannya bervariasi tidak saja akan membingungkan pasien tetapi juga akan menimbulkan masalah dalam pengemasannya. Tablet diukur dengan jangka lengkung selama proses produksi supaya yakin ketebalannya sudah selesai. Berdasarkan Farmakope Indonesia III, kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet (Lachman, et. al., 1994).
d.         Keseragaman Bobot Tablet
Jumlah bahan yang dimasukkan ke dalam cetakan yang akan dicetak menentukan berat tablet yang dihasilkan. Volume bahan yang diisikan (granul dan serbuk) yang mungkin masuk ke dalam cetakan harus disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dahulu dicetak supaya tercapai berat tablet yang diharapkan. Berat tablet juga tergantung pada tekanan yang diberikan pada waktu pencetakan tablet. Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat yang ditentukan dalam Farmakope Indonesia (Ansel, 1989).
Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai berikut : Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu-persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet; tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B.
Bobot Rata-Rata
Penyimpangan Bobot Rata-rata
A
B
25 mg atau kurang
15%
30%
26 mg sampai dengan 150 mg
10%
20%
151 mg sampai dengan 300 mg
7,5%
15%
Lebih dari 300 mg
5%
10%
(Depkes RI, 1979).
e. Kekerasan tablet
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas kerapuhan agar dapat bertahan terdapat berbagai guncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan dan pengiriman (Banker dan Anderson, 1986). Kekerasan merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan daya tahan tablet terhadap guncangan mekanik selama pengemasan dan pengiriman yang ditunjukkan dengan adanya kikisan dan pecahan. Tablet umumnya mempunyai kekerasan antara 4-8 kg (Ansel, 1989).
f. Kerapuhan tablet
Kerapuhan adalah parameter lain dari ketahanan tablet dalam pengikisan dan guncangan. Besaran yang dipakai adalah persen bobot yang hilang selama pengujian dengan alat friabilator.Faktor-faktor yang mempengaruhi kerapuhan antara lain banyaknya kandungan serbuk (fines). Kerapuhan di atas 1,0% menunjukkan tablet yang rapuh dan dianggap kurang baik (Ansel, 1989).
g. Waktu hancur tablet
Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diabsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan. Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah tidak lebih dari 15 menit (Ansel, 1989).
Peralatan Untuk Penyalutan
a. Sistem Panci Konvensional
Terminologi panci konvensional ini digunakan untuk jenis panci penyalut yang sudah dikenal sejak lebih kurang 140 tahun yang lalu berbentuk sferis, heksagonal ataupun berbentuk buah pear. Perubahan dan modifikasi bentuk ini terutama berkembang dengan pemanfaatan panci tersebut. Dari hasil percobaan diketemukan bahwa bentuk yang paling menguntungkan untuk penyalutan tablet ialah bentuk ellipsoid (Aulton, 1988).
b.         Sistem Panci Berlubang
Secara umum semua peralatan dari jenis ini terdiri dari panci berlubang atau berlubang sebagian, yang berputar pada sumbu mendatarnya di dalam kontak tertutup. Pada sistem Accela-Cota dan Hi-Coater, udara pengering di arahkan ka dalam panci melewalitumpukakn tablet, dan dikeluarkan melalui lubang-lubang dalam panci (Lachman, et. al., 1994).
c. Sistem Bidang Cair (Suspensi Udara)
Penyalutan jenis ini juga merupakan sistem pengeringan yang sangat efisien. Pencairan masa tablet dicapai dalam ruang kolom, dengan cara mengalirkan udara pengering ke atas. Aliran udara dikendalikan sedemikian rupa sehingga lebih banyak udara mengalir memasuki pusat kolom dan menyebabkan tablet-tablet yang ada di pusat ditiyp ke atas larutan penyalut disemprotkan dari pipa penyemprot di dasar tabung dan akan melapisi tablet (Lachman, et. al., 1994).
Kelemahan sistem suspensi udara ini adalah tidak dapat digunakan untuk tablet inti yang rapuh, mudah pecah, atau terkikis karena terjadi tumbukan sesama tablet dalam ruang (Basri, 2009).
Peralatan Pelengkap Untuk Penyalutan
a. Penyangga (Baffles)
Pemasangan penyangga dalam panci penyalut bertujuan untuk memperbaiki gerakan tablet di dalam panci selama proses penyalutan. Hal tersebut akan meningkatkan efisiensi dan kualitas serta uniformitas penyalutan. Jumlah, bentuk dan ukuran penyangga dalam panci penyalut tergantung pada produsen dan pemakai perlengkapan penyalut. Desain bentuk dan ukuran penyangga yang akan dipasang erat hubunganya dengan persyaratan tablet, yang meliputi: bentuk, ukuran, kerapuhan dan lain-lain, jenis panci yang digunakan atau proses penyalutan yang dilakukan (Basri, 2009).
b.         Tabung Immersi (Immersion Tube)
Tabung Immersi (Immersion Tube) berfungsi untuk meningkatkan efisiensi pengeringan (pada panci konvensional). Bila menggunakan tabung emmersi penyalutan dapat dilakukan dengan sistem tertutup (Basri, 2009).


c. Panci Pemoles (Polishing Pan)
Panci Pemoles (Polishing Pan) berfungsi untuk memoles tablet sehingga akan dapat dihasilkan tablet yang mengkilap (Basri, 2009).
Metode Pembuatan Tablet Salut Film
a. Atomisasi Tanpa Udara
Suatu sistem penyemprot tanpa udara terdiri dari sietem penghisap udara yang akan menekan larutan penyalut melewati suatu celah halus pada pia semprot dibawah pengaruh tekanan tinggi. Proses atomisasi terjadi karena penurunan tekanan mendadak pada waktu cairan meninggalkan celah pipa semprot mencapai udara. Bentuk dan ukuran celah tersebut serta tekanan udara yang mengaktifkan proses penyedotan udara akan mempengaruhi pola penyemprotan dan ukuran tetesan yang disemprotkan. Pada penyalutan lapis tipis sangat perlu dihasilkan tetesan sehalus mungkin. Tetesan tersebut harus mengenai sasaran tablet dan kering secepatr mungkin. Karena tablet akan melengket satu dengan yang lain jika permukaan tablet terlalu basah (Basri, 2009).
b. Atomisasi Udara (Air Atomization)
Pada sistem penyemprotan atomisasi udara, larutan penyalut dengan tekanan rendah melewati celah. Pada waktu larutan penyalut melewati celah dalam waktu yang bersamaan datang aliran udara dengan tekanan tinggi baik melalui celah atau melalui saluran lain di luar celah. Hal tersebut menyebabkan larutan penyalut terdispersi menjadi partikel halus. Derajat atomisasi dipengaruhi oleh bentuk celah dan tekanan udara yang menyebabkan terjadinya atomisasi pada celah. Keuntungan pemakaian prinsip atomisasi udara adalah karena baik celah ataupun jumlah cairan yang disemprotkan dapat diatur misalnya dengan pompa peristaltik. Keuntungan lain dari sistem ini ialah pembiayaan yang relatif murah (Basri, 2009).

Bahan-bahan Penyalutan Lapisan Tipis ( film coating)
a. Polimer
Faktor kelarutan dalam pelarut pembawa merupakan tinjauan utama dalam pemilihan polimer. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan polimer ialah pengaruh polimer tersebut terhadap stabilitas bahan aktif, bersifat inert, sifat mekanik polimer serta sifat estetika polimer sesudah penyalutan. Kebanyakan polimer yang banyak digunakan untuk penyalutan film adalah turunan dari solulosa yang memiliki berat molekul tinggi (Basri, 2009).
Polimer tinggi makromolekul adalah molekul besar yang dibangun oleh pengulangan satuan kimia kecil dan sederhana, kesatuan-kesatuan berulang tersebut setara dan hampir setara dengan monomer, yaitu bahan dasar dalam polimer. Pemilihan polimer yang akan digunakan dalam penyalutan tergantung pada tujuan penyalutan. Selain daripada jenis polimer, proses penyalutan dapat menggunakan polimer yang larut dalam bentuk dispersi. Dikenal tiga kelompok besar polimer, yaitu :
-       Polimer yang terdapat di alam (selulosa, pati, protein, karet, dll)
-       Polimer yang merupakan sintetis secara kimia
-       Polimer semisintetis
     Pembagian polimer berdasarkan kelarutannya :
1.         Polimer gastrosoluble : polimer yang larut dalam saluran pencernaan
-          Hidroksi Propil Metilselulosa (HPMC)
-          Eudagrit adalah polimer kopolimer metakrilat
2.         Polimer gastroresisten : lazim digunakan untuk salut enterik
-          Selulosa Acetat Phtalat (CAP)
-          Hidroksi Propil Metil Selulosa Phtalat (HPMCP)
-          Hidroksi Propil Metil Selulosa Asetat Suksinat (HPMCAS)
-          Eudragit L dan S
3.         Polimer yang tidak larut umumnya digunakan untuk memperpanjang kerja dan pelepasan obat.
-          Etil selulosa
-          Eudragit RL dan RS (Aulton, 1988).
b.         Pelarut (Pembawa)
Dalam memilih pelarut atau sistem campuran pelarut, ada beberapa faktor yang harus yang dipertimbangkan. Foktor utama yang perlu dipertimbangkann ialah kemampuan pelarut untuk melarutkan polimer yang akan digunakan (Basri, 2009).
Volatilitas atau kemudahan pelarut menguap juga merupakan pertimbangan yang harus diperhatikan. Sifat volatilitas yang kurang baik dari pembawa selain dapat berakibat kesulitan dalam proses penyalutan juga menyebabkan proses pembentukan lapis tipis yang coherent dari bahan penyalut pada permukaan substrat sukar dikendalikan. Pelarut dalam pembuatan tablet salut film berfungsi untuk menghantarkan atau menyampaikan partikel penyalut ke permukaan tablet yang akan disalut (Basri, 2009).
c. Plasticizer
Plasticizer merupakan bahan yang dapat meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas dari penyalut. Penggunaan polimer saja dalam formula film coating terkadang akan dihasilkan lapisan tipis yang rapuh, mudah pecah, mudah terlepas dari sediaan dan sebagainya. Kekurangan tersebut dapat ditutupi menggunakan plasticizer agar lapisan tipis lebih fleksibel dan kuat (Basri, 2009).
Adanya plasticizer akan mengoptimalkan karakteristik dari polimer, seperti fleksibilitas dan keluwesan dari lapisan film penyalut. Dalam hal ini digunakan PEG 400 sebagai plastisizer. Beberapa plasticizer yang dapat digunakan adalah propilen glikol, gliserin, polietilen glikol (plasticiser yang larut dalam air) maupun treacetin, monogliserida diasetilasi, ester ftalat, minyak biji jarak, (plasticizer yang tidak larut dalam air). Pemilihan plasticizer tergantung pada faktor polimer, pelarut, cara penyalutan dan tujuan penggunaan lapisan tipis, misalnya untuk salut enterik dan lepas lambat (Basri, 2009)
d.         Zat Warna atau Pigmen
Pemakaian atau penambahan zat warna bertujuan untuk meningkatkan nilai estetika sediaan dan untuk mempermudah identifikasi sediaan (membedakan obat yang satu dengan yang lain). Pewarna yang digunakan untuk tujuan tersebut yayu pewarna alami ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan). Keuntungan pewarna alami adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi, sedangkan kerugiannya adalah warna pewarna alami tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas (Hamdani, 2008).
Suatu bahan penyalut lapisan tipis yang ideal harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1.      Larut dalam pelarut yang digunakan untuk persiapan penyalutan.
2.      Larut dalam keadaan tertentu yang dimaksud, misalnya kelarutan yang mudah dalam air, lambat larut dalam air atau kelarutan yang tergantung pada pH (lapisan enterik).
3.      Kemampuan untuk menghasilkan produk yang tampak anggun.
4.      Stabilitas dalam keadaan panas, cahaya, kelembapan, udara dan substrat yang akan disalut. Sifat-sifat lapisan tipis harus tidak berubah dengan berlalunya waktu.
5.      Tidak memiliki warna, rasa ataupun bau.
6.      Serasi dengan aditif larutan penyalut pada umumnya.
7.      Tidak toksis, tidak mempunyai kegiatan farmakologis dan mudah dipakai  ke partikel atau tablet.
8.      Tahan retakan dan dilengkapi dengan pelindung obat terhadap kelembapan, cahaya dan bau bila perlu.
9.      Tidak ada jembatan ataupun pengisian permukaan tablet yang tidak ditatah oleh bahan pembentuk lapisan.
10.  Prosedur pencetakan huruf/tanda/merk mudah dilakukan pada peralatan berkecepatan tinggi (Saifullah, 2007).
Pembentuk Lapisan Tipis
a. Bahan Nonenterik, contoh :
-          Hidroksipropil metil selulosa,
-          Metil hidroksietilselulosa,
-          Etilselulosa,
-          Hidroksipropilselulosa,
-          Povidon,
-          Natrium karboksimetilselulosa,
-          Polietilen glikol (Saifullah, 2007).
b. Bahan Enterik
Bahan penyalut enterik dari pil dan tablet yang dicetak sdah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Beberapa alasan penting untuk bahan penyalut enterik adalah sebagai berikut :
-          Untuk melindungi obat-obat yang tidak tahan asam terhadap cairan lambung, misalnya enzim-enzim dan beberapa antibiotik tertentu.
-          Untuk mencegah nyeri pada lambung atau mual karena iritasi dari suatu bahan obat, misalnya Natrium salisilat.
-          Untuk melepaskan obat agar didapat efek local di dalam uus, seperti antiseptik usus dapat melepaskan bentuk obatnya hanya di usus dan menghindari penyerapan sistemik dalam lambung.
-          Untuk melepaskan obat-obat yang diserap secara optimal di dalam usus halus sebagai penyerapan utamanya.
-           Untuk memberikan suatu komponen yang penglepasannya ditunda sebagai aksi ulang dari tablet (Saifullah, 2007).

Suatu bahan penyalut enterik yang baik harus memilki sifat-sifat sebagai berikut :
1)      Tahan terhadap cairan lambung
2)      Rentan terhadap cairan usus dan permeable terhadap cairan usus.
3)      Dapat bercampur dengan sebagian besar komponen larutan penyalut dan bahan dasar obat.
4)      Stabil dalam bentuk tunggalnya atau di dalam larutan penyalut. Lapisan tipis ini tidak mudah berubah dalam penyimpanan.
5)      Membentuk lapisan tipis (terus-menerus).
6)      Tidak toksik
7)      Biayanya murah
8)      Mudah dipakai tanpa harus menggunakan alat khusus.
9)      Dapat dengan mudah dicetak, atau lapisan tipis dapat digunakan pada tablet yang tidak ditatah (Saifullah, 2007).

Pemeriksaan waktu hancur tablet yang disalut enterik, menurut United State Pharmacopeia (USP), mengharuskan tablet tahan terhadap pengadukan dalam larutan pemeriksaan cairan lambung buatan pada temperatu 37 ± 2oC (tanpa lempengan). Setelah satu jam terpapar dalam cairan lambung batan tersebut, tablet tidak memperhatikan bukti adanya daya hancur, keretakan atau kerapuhan. Kemudian ditambahkan suatu lempengan pada setiap tabung dan pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan cairan usus buatan yang dipertahankan pada temperatur 37 ± 2oC sebagai cairan pencelup, untuk satu metode pemeriksaan selama  2 jam atau dalam batas waktu yang tertera dalam monografinya. Jika seluruh tablet sudah hancur, pemeriksaan tablet sudah selesai. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur secara sempurna, pemeriksaan diulangi dengan menggunakan 12 tablet tambahan. Pemeriksaan daya hancur tablet dinyatakan selesai bila 16 dari 18 tablet dapat dihancurkan (Swarbrick & James, 1991).

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1997. Ilmu Meracik Obat: Teori dan Praktik. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Penerjemah: Farida Ibrahim. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Asmarini. 2007. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker. Tersedia pada http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14469/1/063202003(2).pdf [diakses pada 1 Mei 2010].
Augsburger, L. L. & Hoag, S. W. 2008. Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets. 3rd Edition. Informa health care USA. New York.
Aulton, M, E. 1988. Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design. Churchill Livingstone Inc. New York.
Barkley, A., Levine, S., Signorino, C. 2006. Tablet Coating. Tersedia pada  http://online1.ispcorp.com/enUS/Media/Articles/The%20Evolution%20and%20Evaluation%20of%20Tablet%20Coatings.pdf [diakses pada 30 April 2010].
Basri. 2009. Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers) dengan Bahan Penyalut Hidroksipropil Metilselulosa dan Polietilen Glikol 400. Tersedia pada etd.eprints.ums.ac.id/5865/ [diakses pada 1 Mei 2010].
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Lachman, L., Lieberman, H. A., & Joseph, L. K. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga. Penerjemah: Siti Suyatmi. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Martin, A., James, S., & Arthur, C. 1993. Farmasi Fisik. UI-Press. Jakarta.
Shargel, L., & Yu, A. B. C. 1988. Biofarmasi dan Farmakokinetika Terapan. Edisi II. Penerjemah Dr. Fasich, Apt & Dra. Siti Sjamsiah, Apt. Airlangga University Press. Surabaya.
Swarbrick, J., James, C.B.1991. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Marcel Dekker. USA.
Tim Colorcon. 2007. Opadry Enteric. Tersedia pada www.colorcon.com/literature/.../mr/.../Opadry%20Enteric/.../prep_use.pdf [diakses pada 3 Mei 2010].
Tjay, T. H. & Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting, Edisi Kelima. Penerbit PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Trisnanto, T. A. 2008. Optimasi Formula Sediaan Tablet Teofilin dengan Starch 1500 sebagai Bahan Penghancur dan CMC Na sebagai Bahan Pengikat dengan Model Simplex Lattice Design. Tersedia pada etd.eprints.ums.ac.id/1466/1/K100040066.pdf (diakses tanggal 24 April 2010).

Wulandari, R. 2009. Profil Farmakokinetik Teofilin yang Diberikan secara Bersamaan dengan Jus Jambu Biji (Psidium Guajava L.) pada Kelinci Jantan. Tersedia pada etd.eprints.ums.ac.id/6144/1/K100050119.pdf (diakses tanggal 24 April 2010).

Ads Inside Post

semoga bermanfaat