Sunday, March 29, 2015

Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens

Sarang Semut

(Myrmecodia pendens Merr. & L.M.Perry)

Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens
Artikel Sarang Semut Myrmecodia pendens

NAMA LOKAL
Nama Indonesia          : Sarang semut
Nama Daerah              : Rumah  semut (Sumatra); ulek ulek polo (Jawa); lokon,
  suhendep, nongon (Papua)
Nama Luar Negeri      : Periok hantu, peruntak, sembuku (Malaysia); by ki nan, ki nam        
gai, ki nam kin (Vietnam); Ant Plant (Inggris).
Nama informal            : Khusus untuk Myrmecodia tuberose, ada sekitar 16 subspesies
atau varietas yang diberi nama informal, yaitu: Armata, Siberutensis, Bracteata, Apoensis, Sibuyanensis, Menadensis, Rumphii, Bullosa, Lanceolata, Muelleri, versteegii, Pulvinata, Papuana, Dahlii, Salomonensis, dan Manusensis.
 TAKSONOMI
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Rubiales
Famili              : Rubiaceae
Genus              : Myrmecodia
Spesies            : Myrmecodia alata Becc.
Myrmecodia archboldiana Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia aureospina Huxley & Jebb
Myrmecodia brassii Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia ferox Huxley & Jebb
Myrmecodia horrida Huxley & Jebb
Myrmecodia kutubuensis Huxley & Jebb
Myrmecodia lamii Merr. & L.M.Perry
Myrmecodia paradoxa Huxley & Jebb
Myrmecodia pendens Merr. & L.M.Perry (sering dijadikan obat)
Myrmecodia pteroaspida Huxley & Jebb
Myrmecodia sterrophylla Merr. & L.M.Perry

MORFOLOGI
Tumbuhan perdu parasit-epifit ini dapat berasosiasi dengan semut. Secara ekologi tumbuhan sarang semut tersebar di hutan bakau dan pohon-pohon di pinggir pantai hingga ketinggian 30 - 45 cm serta golongan tumbuhan berumur panjang (perenial). Perkembangbiakan nya secara generatif yaitu dengan menghasilkan biji. Tanaman ini berasal dari  daratan Papua.
Batang sarang semut ini bercirikan berkayu, silindris, jarang ada yang bercabang, jika ada hanya satu atau beberapa cabang saja. Bahkan ada beberapa spesies yang tidak memiliki cabang sama sekali. Batangnya tebal dan internodalnya sangat dekat, kecuali pada pangkal sarang semut dari beberapa spesies. Saat muda pangkalnya menggelembung berbentuk bulat, kemudian menjadi lonjong memendek dan memanjang. Saat tua diamater pangkal batang kadang bisa mencapai 30 cm, berwarna cokelat muda hingga abu-abu, permukaan dipenuhi duri-duri tajam, bagian dalam berbentuk rongga bersekat-sekat dan biasa dijadikan tempat tinggal koloni semut.
Daun tunggal, bertangkai, tersusun menyebar namun lebih banyak terkumpul di ujung batang, warna hijau, bentuk jorong, panjang 20 - 40 cm, lebar 5 - 7 cm, helaian daun agak tebal - lunak, ujung tumpul (obtusus), pangkal meruncing, tepi rata, permukaan halus, tulang daun berwarna putih. Daunnya tebal seperti kulit. Pada beberapa spesies memiliki daun  yang sempit dan panjang. Stipula (penumpu) besar, persisten, terbelah dan berlawanan dengan tangkai daun (petiol), serta membentuk seperti “telinga” pada klipeoli. Terkadang terus berkembang menjadi sayap di sekitar bagian atas klipeolus.
Bunga berwarna putih. Pembungaan dimulai sejak adanya beberapa ruas (intermodal) pada tiap-tiap nodus (buku). Dua bagian pada setiap bunga berkembang pada suatu kantong udara (alveolus) yang berbeda. Alveoli tersebut mungkin ukurannya tidak sama dan terletak pada tempat yang berbeda di batang. Kuntum bunga muncul pada dasar alveoli. Setiap bunga berlawanan oleh suatu brakteola. Bunga jarang kleistogamus (menyerbuk tidak terbuka) dan terkadang heterostilus. Kelopak biasanya terpotong. Polennya 1-, 2-, atau 3- porat (kolporat) dan sering 1,2,atau 3 visikel sitoplasma yang besar.
Buah berkembang dalam alveolus dan memanjat pada dasarnya menjadi menonjol keluar hanya setelah masak. Buahnya disebut buah beri, bulat, berwarna oranye.

KANDUNGAN SENYAWA
Komposisi dan kandungan senyawa aktif sarang semut ditampilkan pada tabel dibawah.
Senyawa
Kadar
Energi
350,52 Kkal/100 g
Kadar air
4,54 g/100 g
Kadar abu
11,13 g/100 g
Kadar lemak
2,64 g/100 g
Kadar protein
2,75 g/100 g
Kadar karbohidrat
78,94 g/100 g
Tokoferol
31,34 mg/100 g
Total fenol
0,25 g/100 g
Kalsium (Ca)
0.37 g/100 g
Natrium (Na)
68,58 mg/100 g
Kalium (K)
3,61 g/100 g
Seng (Zn)
1,36 mg/100 g
Besi (Fe)
29,24 mg/100 g
Fosfor (P)
0,99 g/100 g
Magnesium (Mg)
1,50 g/100 g

EFEK FARMAKOLOGI
Berikut adalah keterangan singkat beberapa senyawa bermanfaat yang terkandung dalam Sarang Semut:
Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Selain itu, flavonoid berfungsi untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, antinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik. Flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Fungsi flavonoid sebagai anti virus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV /AIDS dan virus herpes. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperi asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan perionditis (radang, jaringan ikat penyangga akar gigi). Penelitian-penelitian mutakhir telah mengungkap fungsi-fungsi lain dari flavonoid, tidak saja untuk pencegahan, tetapi juga untuk pengobatan kanker. Banyak mekanisme kerja dari flavonoid yang sudah terungkap, misalnya inaktivasi karsinogen, antiprofilisasi, penghambatan siklus sel, induksi apaoptosis, diferensiasi, inhibisi angiogenesis, serta pembalikan resistensi multi-obat atau kombinasi dari mekanisme-mekanisme tersebut. Kemampuan sarang semut secara empiris untuk pengobatan berbagai jenis kanker atau tumor, TBC, dan encok/rematik diduga kuat berkaitan dengan kandungan flavonoid di dalam Sarang Semut. Hasil analisis penghambatan aktivitas enzim xanthine oxidase oleh ekstrak tumbuhan Sarang Semut menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan ini dapat menghambat aktivitas enzim xanthine oxidase dengan aktivitas yang setara dengan allopurinol, obat komersial yang digunakan untuk pengobatan asam urat. Pada kadar yang sesuai, flavonoid memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit termasuk penyakit jantung, diabetes, tumor, dll. Flavonoid juga membantu mencegah aterosklerosis atau penyakit yang ditandai dengan pengendapan lemak dalam dinding arteri. Deposisi tersebut mempersempit arteri dan dengan demikian menghambat aliran darah ke organ-organ vital tubuh seperti jantung dan otak. 
Tanin merupakan astrigen yang mengikat dan mengendapkan protein berlebih dalam tubuh. Dalam bidang pengobatan, tanin digunakan untuk mengobati diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir. Karena itu kemampuan Sarang Semut secara empiris untuk pengobatan, misalnya untuk pengobatan ambeien (wasir) dan mimisan diduga kuat berkaitan dengan kandungan zat ini.
Polifenol adalah asam fenolik dan flavonoid. Polifenol tanaman berasa pahit yang dapat mengikat dan mengendapkan protein. Khasiat dari polifenol adalah anti mikroba dan menurunkan kadar gula darah. Asam fenolik merupakan kelas dari antioksidan atau senyawa yang menghilangkan radikal bebas. Molekul yang tidak stabil ini adalah produksi dari metabolisme normal yang menyumbat pembuluh darah dan mengakibatkan perubahan pada DNA yang dapat menimbulkan kanker dan penyakit lain.
Tokoferol (vitamin E) sekitar 313 ppm. Analisis antioksidan dari ekstrak kasar tumbuhan Sarang Semut dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki aktivitas antioksidan sedang, yaitu diperoleh nilai IC50 sebesar 48,6 ppm.
Sementara alfa-tokoferol yang merupakan antioksidan kuat dengan nilai IC 50 diperoleh angka sebesar 5,1 ppm. IC50 merupakan konsentrasi dari antioksidan yang dapat meredam atau menghambat 50% radikal bebas. Semakin kecil nilai IC50 dari suatu antioksidan maka semakin kuat antioksidan tersebut. Alfa-tokoferol pada konsentrasi 12 ppm telah mampu meredam radikal bebas sebanyak 96% dan persentase inhibisi ini tetap konstan untuk konsentrasi-konsentrasi yang lebih tinggi dari 12 ppm. Hasil penelitian ini mempunyai makna bahwa alfa-tokoferol pada konsentrasi rendah pun telah memiliki aktivitas peredam.
Magnesium memiliki peranan dalam fungsi tulang, hati, otot, transfer air intraseluler, keseimbangan basa, dan aktivitas neuromuseluler. Fungsi-fungsi mineral tersebut dapat menjelaskan beberapa khasiat lain dari Sarang Semut , misalnya, khasiat dalam membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan peredaran darah, mengobati migren, gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, serta memulihkan gairah seksual.
Kalsium berfungsi dalam kerja jantung, implus saraf, dan pembekuan darah.
Besi berfungsi dalam pembentukan hemoglobin, transporoksigen, aktivor enzim.
Fosfor berfungsi dalam penyerapan kalsium dan produksi energi.
Natrium memilki peranan dalam keseimbangan elektrolit, volume cairan tubuh, dan implus saraf, dan kesimbangan asam-basa. Seng memiliki fungsi dalam sintesis protein fungsi seksual, penyimpanan insulin, metabolisme karbohidrat, dan penyembuhan luka.
Natrium memiliki peranan dalam kesetimbangan elektrolit, volume cairan tubuh, dan impuls saraf. Kalium berfungsi dalam ritme jantung, impuls saraf, dan keseimbangan asam-basa. Seng memiliki fungsi dalam sintesis protein, fungsi seksual, penyimpanan insulin, metabolisme karbohidrat, dan penyembuhan luka. Sementara Magnesium memiliki peranan dalam fungsi tulang, hati, otot, transfer air intraseluler, keseimbangan basa, dan aktivitas neuromuskuler.
Fungsi-fungsi mineral tersebut dapat menjelaskan beberapa khasiat lain dari Sarang Semut, misalnya khasiatnya dalam membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan haid dan mengobati keputihan, melancarkan peredaran darah, mengobati migren (sakit kepala sebelah), gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, memulihkan gairah seksual, meningkatkan dan memperlancar produksi air susu ibu (ASI), memulihkan kesehatan wanita setelah persalinan, stroke berat dan ringan, membantu mengobati lupus, menghilangkan benjolan-benjolan pada bagian tubuh, gangguan ginjal dan prostat, tuberkulosis dan masalah paru-paru, ambeien (Wasir) baru maupun lama, sakit kepala sebelah (Migrain), rematik (Sakit pada persendian), pegal linu, nyeri otot, dan melancarkan peredaran darah, meningkatkan vitalitas, memperbaiki dan meningkatkan stamina tubuh. Tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) dianggap mampu mengatasi kanker, asam urat, liver, stroke, jantung, wasir (ambien), nyeri punggung, alergi, sebagai tonikum hingga meningkatkan gairah seksual (Trubus 2006).
Subroto dan Saputro (2006), mengungkapkan bahwa senyawa aktif yang terkandung dalam sarang semut itu adalah flavonoid, tanin, dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Flavonoid merupakan antioksidan alam yang mampu bertindak sebagai pereduksi radikal hidroksil, superoksida dan radikal peroksil (Harun & Syari 2002). Selain itu dalam sarang semut juga ditemukan kandungan senyawa yang bermanfaat lainnya, seperti tokoferol, magnesium, kalsium, besi, fosfor, natrium, dan seng. Senyawa aktif polifenol yang terkandung dalam sarang semut memiliki banyak khasiat, yaitu sebagai antimikroba, antidiabetes, dan antikanker. Kandungan 313 ppm tokoferol yang meredam 96% radikal bebas pada konsentrasi 12 ppm (Subroto & Saputro 2006).
   Berdasarkan uji toksisitas akut ekstrak air tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) terhadap histologi organ hati mencit oleh Arif Soeksmanto, Partomuan Simanjuntak, dan Muhammad Ahkam Subroto di Laboratorium Biofarmaka, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pemberian dosis ekstrak air tanaman sarang semut tidak menimbulkan kelainan yang menyebabkan hewan sakit.
Dalam uji toksisitas akut itu, digunakan 40 ekor mencit (Mus musculus) dari strain balb/c jantan yang berumur sekitar 2 bulan dengan berat ± 16 g. Mencit tersebut ditempatkan dalam 4 buah bak plastik dengan pemberian pakan dan minum secara ad libitum. Kepada mencit tersebut diberikan 3 tingkatan perlakuan dosis yaitu 37,5; 375 dan 3750 mg/kg bb (berat badan) ekstrak air tanaman sarang semut, sedangkan kelompok kontrol hanya diberi akuades. Pengamatan perkembangan kerusakan diamati pada hari ke 5, 12, 19 dan 26.
Penampakan organ-organ hati, ginjal, paru dan jantung yang diamati tampak normal. Demikian pula pada pengamatan mikroskopis, menunjukkan pemberian dosis 37,5 mg/kg bb tanaman sarang semut, tidak menyebabkan adanya kelainan yang berarti pada organ. Terjadinya pneumonia pada paru-paru akibat pemeliharaan yang kurang baik dan tidak terkait dengan pemberian ekstrak air tanaman sarang semut. Diduga dosis 37,5 mg/kg bb tanaman sarang semut tidak mengganggu kerja unit-unit fungsional hati. Ketika dosis ekstrak ditingkatkan menjadi 375 mg/kg bb mulai tampak terjadi gangguan aktivitas dari unit fungsional hati.
Berdasarkan penelitian pengaruh pemberian infusa tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum) terhadap gambaran histologi pankreas pada tikus (Rattus norvegicus) diabetes terinduksi aloksan oleh Mutiana Muspita Jeli, SN. Nurul Makiyah Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini dengan eksperimental in vivo pada hewan uji tikus (Rattus norvegicus) diabetes terinduksi aloksa. Ttiga kelompok perlakuan masing - masing menggunakan infusa H. formicarum dosis 1,26 gr/kg BB, H. formicarum dosis 2,52 gr/kg BB, dan H. formicarum dosis 5,04 gr/kg BB serta tiga kelompok pembanding masing-masing kontrol normal yaitu tanpa perlakuan, kelompok kontrol negatif yaitu dengan aloksan dan kontrol positif dengan glibenklamid 0,5 mg/kgBB.
H. formicarum telah membantu proses perbaikan kerusakan pada pankreas akibat induksi aloksan terbukti dengan adanya peningkatan pada diameter pulau Langerhans dan jumlah sel β. rata-rata diameter pulau Langerhans pada kelompok H. Formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami perbaikan lebih baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya yaitu dengan rerata diameter pulau Langerhans 62,2 μm. Data tersebut menunjukkan bahwa diameter pulau langerhans pada kelompok H. formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan yang lain dan kelompok kontrol negatif, tetapi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok glibenklamid. Begitu pula dengan jumlah sel β dalam pulau Langerhans pada kelompok H. formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami peningkatan lebih banyak dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya yaitu dengan jumlah sel β 34 buah. menunjukkan bahwa jumlah sel β dalam pulau langerhans pada kelompok H.  formicarum dosis 5,04 g/kgBB mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan yang lain dan kelompok kontrol negatif, tetapi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok glibenklamid.
Berdasarkan penelitian uji toksisitas ekstrak etanol sarang semut lokal aceh (Mymercodia sp.) dengan metode bslt terhadap larva udang Artemia salina Leach oleh  Frengki, Roslizawaty, dan Desi Pertiwi dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ekstrak etanol sarang semut pada percobaan ini memiliki potensi toksisitas akut menurut metode BSLT sebagaimana sarang semut asal Papua.
Sebanyak 10 larva udang dalam 100 μl air laut dimasukkan ke dalam vial uji, kemudian ditambahkan 100 μl larutan sampel DMSO pada konsentrasi 500, 250, 100 dan 50 μg/ml. Pengujian terhadap ekstrak etanol sarang semut lokal (Aceh) menunjukkan harga LC50 sebesar 61,11 μg/ml, sedangkan uji BSLT ekstrak etanol sarang semut asal Papua diperoleh LC50 sebesar 37,03 μg/ml (Bustanussalam, 2010). Penelitian menunjukkan bahwa sarang semut asal Aceh memiliki kandungan senyawa aktif berbeda dibandingkan sarang semut Papua, namun keduanya memiliki sifat toksisitas akut yang hampir sama terhadap larva udang Artemia salina Leach menurut metode BSLT.

No comments:

Post a Comment

Silahkan corat coret kolom komentar ^_^

Ads Inside Post

semoga bermanfaat