Saturday, November 15, 2014

PEMERIKSAAN BILIRUBIN TERHADAP URINE

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PEMERIKSAAN BILIRUBIN TERHADAP URINE

TUJUAN PERCOBAAN :

            Mahasiswa mampu memahami prinsip penentuan bilirubin dalam urin sebagai salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.           

DASAR TEORI

Urin atau air seni maupun air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Dari urin kita bisa memantau penyakit melalui perubahan warnanya. Meskipun tidak selalu bisa dijadikan pedoman namun Ada baiknya Anda mengetahui hal ini untuk berjaga-jaga. Urin merupakan cairan yang dihasilkan oleh ginjal melalui proses penyaringan darah. Oleh kaena itu kelainan darah dapat menunjukkan kelainan di dalam urin.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.

Bilirubin ( sebelumnya disebut sebagai hematoidin ) adalah produk rincian kuningnormal hemekatabolisme. Heme ditemukan dalam hemoglobin, komponen utama darisel darah merah . Bilirubin diekskresikan dalam empedu dan urin , dan peningkatankadar dapat mengindikasikan penyakit tertentu.Hal ini bertanggung jawab untuk warnakuning memar , warna kuning air seni (melalui produk pemecahan direduksi, urobilin ),warna coklat dari kotoran (melalui konversi kepada stercobilin ), dan perubahan warnakuning pada penyakit kuning .

Fungsi bilirubin :Bilirubin dibuat oleh aktivitas reduktase biliverdin pada biliverdin , pigmen empeduhijau tetrapyrrolic yang juga merupakan produk katabolisme heme.Bilirubin, ketikateroksidasi, beralih menjadi biliverdin sekali lagi. Siklus ini, selain demonstrasi aktivitasantioksidan ampuh bilirubin, telah menyebabkan hipotesis bahwa peran utama fisiologis bilirubin adalah sebagai antioksidan seluler.

Eksresi bilirubin larut ke dalam saluran dan kandung empedu berlangsung denganmekanisme transport aktif yang melawan gradien konsentrasi. Dalam keadaanfisiologis, seluruh bilirubin yang diekskresikan ke kandung empedu berada dalam bentuk terkonjugasi (bilirubin II) Dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.

Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium.

ALAT DAN BAHAN 
Alat :  
Beaker glass
Erlenmeyer 
Tabung reaksi beserta rak
      
Bahan :       
Sampel urin normal 
10 gr Zn(C H3COOH)2
Alkohol 96 %
0,5 gr I2 
1 gr KI
Air atau Aquadest

Cara pemeriksaan Bilirubin
  • 5 ml urine ditambah 2 tetes larutan lugol
  • Tambahkan 7,5 ml reagen Schlesinger, kemudian kocok
  • Saring sampai di dapat filtrate 
  • Filtrate diperiksa / dilihat dengan latar belakang hitam 
  • Positif bila didapat flourescen hijau pada filrate

 Cara pembuatan reagen Schlesinger
  • 10 gr Zn( CH3COOH)2
  • disuspensikan dalam  100 ml alkohol 96 %

Cara pembuatan reagen Lugol
  • 0,5 gr I2 dan 1 gr KI dilarutkan dalam air, 
  • Setelah larut ditambah air sampai 150 ml

DATA HASIL PENGAMATAN

1.      Pemeriksaan bilrubine pada urine 

SAMPEL
+ PEREAKSI
PERLAKUAN
HASIL
5 ml sampel
2 tetes lugol, + 7,5 ml reagen Schlesinger
Disaring dan dilihat filtrate pada latar belakang hitam
(-) Tak ada flouresensi hijau
Terdapat endapan warna kuning pucat pada bagian atas dan endapan kuning pada bagian bawah


PEMBAHASAN
            
            Pada praktikum pemeriksaan urine atas indikasi bilirubin ini harus menggunakan urine sampel segar yang kurang dari 4 jam, hal ini dikarenakan bilirubin akan teroksidasi jika terlalu lama dan apalagi terpapar oleh cahaya. Sehingga akan menghasilkan nilai yang falsa negatif.
            Pada percobaan pemeriksaan urine atas indikasi urobilin ini, dimana sampel urine segar dimasukkan didalam tabung reaksi kemudian ditambahkan larutan lugol baru ditambah reagen schlesinger kemudian diaduk / dikocok homogen. Lalu disaring dengan kertas saring, jika hasil saringan keruh maka disaring kembali hingga didapatkan filtrat yang jernih.
            Kemudian setelah didapat filtrat yang jernih, lihatlah flouresensi filtrat dengan background yang gelap ( hitam ). Hasil positif jika terdapat flouresensi yang kehijauan, dan negatif jika tidak ada flouresensi hijau ( hasil praktikum negatif ). Dalam keadaan normal, selalu terdapat flourescensi hijau yang amat ringan. Bila hasil ragu-ragu harus dibandingkan dengan percobaan schlesinger pada urine normal.
            Riboflavin (vitamin B2) yang terdapat dalam tablet atau injeksi B kompleks akan mempengaruhi fluoresensi hijau, tetapi fluoresensi telah tampak pada urine sebelum diberi reagen schlesinger.
            Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam lemak maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari berbagai heme protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % ) terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam proses penghancuran eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping itu sekitar 20 % dari bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan lisis eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit dihancurkan setiap jam. Dengan demikian bila hemoglobin dihancurkan dalam tubuh, bagian protein globin dapat dipakai kembali baik sebagai protein globin maupun dalam bentuk asam- asam aminonya.
            Bilirubin terkonjugasi yang mencapai ileum terminal dan kolon dihidrolisa oleh enzym bakteri β glukoronidase dan pigmen yang bebas dari glukoronida direduksi oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, suatu senyawa tetrapirol tak berwarna. Sejumlah urobilinogen diabsorbsi kembali dari usus ke perdarahan portal dan dibawa ke ginjal kemudian dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna kuning pada urine. Sebagian besar urobilinogen berada pada feces akan dioksidasi oleh bakteri usus membentuk sterkobilin yang berwarna kuning kecoklatan.

KESIMPULAN 
1. Praktikum yang dilakukan minggu ini adalah tentang penentuan bilirubin dalam urine
2. Penentuan bilirubin dalam urine yang kami lakukan dengan mencampurkan 2 reagen yaitu reagen sclesinger dan lugol
3. Semua percobaan dari sampel urin yang kami dapat menujukkan hasil yang negatif yang berarti semua urine negatif mengandung bilirubin
4. Pemeriksaan urine atas indikasi bilirubin ini harus menggunakan urine sampel segar yang kurang dari 4 jam, hal ini dikarenakan bilirubin akan teroksidasi jika terlalu lama dan apalagi terpapar oleh cahaya. Sehingga akan menghasilkan nilai yang falsa negatif.
5. Penyaringan digunakan untuk melihat filtrate yang dihasilkan urine 


DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto. 2013. Proses Pembentukan Urin Pada Ginjal. Tersedia di: 
http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-xi/proses-pembentukan-urine-pada-ginjal/ [Akses tanggal 6 April 2013].
.Ethel, S. 2003. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Medika. 2012. Pemeriksaan Urin. Tersedia di: http://www.biomedika. co.id/services/laboratorium/31/pemeriksaan-urin.html  [Akses tanggal 6 April 2014].
Ningsih, Suti. 2012. Proses Pembentukan Urin. Tersedia di: http://sutiningsih2/2012/12/proses_pembentukan_urin_15.html. [Akses tanggal 6 April 2013].
Scanlon, Valerie C. dan Tina Sanders. 2000. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.





               

No comments:

Post a Comment

Silahkan corat coret kolom komentar ^_^

Ads Inside Post

semoga bermanfaat