Sunday, September 28, 2014

Obat Parkinson dan Obat Perangsang Saraf Pusat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain : mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum medula dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks otak-depan oleh se-nyawa stimulan SSP akan meningkatkan kewaspadaan, pengurangan kelelahan pikiran dan semangat bertambah. Contoh senyawa stimulan SSP yaitu kafein dan amfetamin
Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral dan sistem saraf tepi (SST). Pada sistem syaraf pusat, rangsang seperti sakit, panas, rasa, cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian dilanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang. Rasa sakit disebabkan oleh perangsangan rasa sakit diotak besar. Sedangkan analgetik narkotik menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut. Sistem syaraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya sedatif hipnotik. Obat yang dapat merangsang SSP disebut analeptika.
Obat – obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan efek farmakodinamiknya dibagi atas dua golongan besar yaitu :
  Merangsang atau menstimulasi yang secara langsung maupun tidak langsung merangsang aktivitas otak, sumsum tulang belakang beserta syarafnya.
  Menghambat atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak lansung memblokir proses proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum tulang belakang dan saraf- sarafnya.
Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas (merangsang atau menghambat secara spesifik atau secara umum). Berikut ini beberapa macam golongan obat yang bekerja pada susunan saraf pusat :
1.      Analgetik
2.      Anestika Umum
3.      Anti epilepsi
4.      Hipnotika-sedativa
5.      Anti emetika
6.      Neurotropik
7.      Anti parkinson 
8.      Adrenerik
9.      Adrenoligik
10.  Kolinergik
11.  Anti kolinergik
12.  Anti obesitas

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan :
1. Definisi sistem saraf pusat
2. Klasifikasi sistem saraf pusat
3. Jenis –jenis obat sistem saraf pusat dan mekanisme kerjanya
4. Definisi penyakit Parkinson
5. Gejala dan penyebab penyakit Parkinson
6. Diagnosis penyakit Parkinson
7.  Perawatan dan terapi penyakit Parkinson
8. Penggunaan obat Antiparkinson
9. Penggolongan obat Antiparkinson
10. Efek Samping obat Antiparkinson
11. Interaksi obat
12. Obat-obat Antiparkinson
13. Mekanisme kerja obat

1.3 Tujuan
Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan  yang dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi I.
2. Untuk mengetahui definisi sistem saraf pusat, klasifikasi sistem saraf pusat, obat perangsang sistem saraf pusat, definisi penyakit parkinson, gejala dan penyebab parkinson, diagnosis penyakit parkinson, perawatan dan terapi penyakit parkinson, penggunanaan obat antiparkinson, penggolongan obat antiparkinson, efek samping obat antiparkinson, interaksi obat, obat-obat antiparkinson dan mekanisme kerja obat.



BAB II
 PEMBAHASAN

2.1 Definisi sistem saraf pusat
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum medula dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks otak-depan oleh se-nyawa stimulan SSP akan meningkatkan kewaspadaan, pengurangan kelelahan pikiran dan semangat bertambah. Contoh senyawa stimulan SSP yaitu kafein dan amfetamin.

2.2 Klasifikasi sistem saraf pusat
Obat yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu:
1. Psikofarmaka (psikotropika), yang meliputi Psikoleptika (menekan atau menghambat fungsi-fungsi tertentu dari SSP seperti hipnotika, sedativa dan tranquillizers, dan antipsikotika); Psiko-analeptika (menstimulasi seluruh SSP, yakni antidepresiva dan psikostimulansia (wekamin)).
2. Untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, MS (multiple sclerosis), dan penyakit Parkinson.
3.    Jenis yang memblokir perasaan sakit: analgetika, anestetika umum, dan lokal.
4.    Jenis obat vertigo dan obat migrain (Tjay, 2002).

2.3 Jenis –jenis obat sistem saraf pusat dan mekanisme kerjanya
1.      Obat Anestetik :
Obat anestetik adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dalambermacan-macam tindakan operasi.
a. Anestetik Lokal : Obat yang merintangi secara reversible penerusan impuls-impuls syaraf ke SSP (susunan syaraf pusat) pada kegunaan lokal dengan demikian dapat menghilangkan rasa nyeri, gatal-gatal, panas atau dingin.
Penggolongan :
Secara kimiawi anestetik local dibagi 3 kelompok yaitu :
  Senyawa ester, contohnya prokain, benzokain, buvakain, tetrakain, dan
     oksibuproka
  Senyawa amida, contohnya lidokain, mepivikain, bupivikain,, cinchokain dll.
  Semua kokain, semua obat tersebut diatas dibuat sintesis.
 b). Anestetika Umum : Obat yang dapat menimbulkan suatu keadaan depresi
         pada pusat-pusat syaraf tertentu yang bersifat reversible, dimana seluruh
         perasaan dan kesadaran ditiadakan. Beberapa syarat penting yang harus
         dipenuhi oleh suatu anestetik umum :
  berbau enak dan tidak merangsang selaput lender
   mula kerja cepat tanpa efek samping
   sadar kembalinya tanpa kejang
   berkhasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot seluruhnya
   Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu pembedahan
       Penggolongan :
Menurut penggunaannya anestetik umum digolongkan menjadi 2 yaitu:
  Anestetik injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting ( thiopental
    dan heksobarbital )
  Anestetik inhalasi diberikan sebagai uap melalui saluran pernafasan.
     Contohnya eter,dll.

2.      Obat Hipnotik dan Sedatif
  Hipnotik atau obat tidur berasal dari kata hynops yang berarti tidur, adalah
   obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat mempertinggi
                         keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atu menyebabkan tidur.
                         Sedangkan sedative adalah obat obat yang menimbulkan depresi ringan pada
                         SSP tanpa menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah
                         kejang-kejang. Yang termasuk golongan obat sedative-hipnotik adalah:
                         Ethanol (alcohol), Barbiturate,fenobarbital, Benzodiazepam, methaqualon.
Penggolongan :
   Secara kimiawi, obat-obat hipnotik digolongkan sebagai berikut :
    Golongan barbiturate, seperti fenobarbital, butobarbital,siklobarbital,
       heksobarbital,dll.
   Golongan benzodiazepine, seperti flurazepam, nitrazepam, flunitrazepam
        dan triazolam.
  Golongan alcohol dan aldehida, seperti klralhidrat dan turunannya serta
    paraldehida.
  Golongan bromide, seperti garam bromide ( kalium, natrium, dan
                             ammonium ) dan turunan ure seperti karbromal dan bromisoval.
  Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida ) dan
    metaqualon.

3.      Obat Psikofarmaka / psikotropik 
         Obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan
           saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental
           dan perilaku, dan digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Di bagi
           menjadi 2 :
      a.  Obat yang menekankan fungsi psikis terhadap susunan saraf pusat
               Neuroleptika yaitu obat yang berkerja sebagai anti psikotis dan sedative
          yang dikenal dengan Mayor Tranquilizer.
     b.  Ataraktika/ anksiolitika yaitu obat yang bekerja sedative, relaksasi otot
         dan antikonvulsi yang digunakan pada gangguan akibat gelisah/ cemas,
         takut, stress dan gangguan tidur, dikenal dengan Minor Tranquilizer.
Penggolongan obat-obat ataraktika dibagi menjadi 2 yaitu :
  Derivat Benzodiazepin
  Kelompok lain, contohnya : benzoktamin, hidrosizin dan
     meprobramat. 

4.      Obat Antikonvulsan 
  Obat mencegah & mengobati bangkitan epilepsi.
  Contoh : Diazepam, Fenitoin,Fenobarbital, Karbamazepin, Klonazepam.

5.      Obat Pelemas otot / muscle relaxant 
         Obat yg mempengaruhi tonus otot
6.      Obat Analgetik atau obat penghalang nyeri
         Obat atau  zat-zat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
    menghilangkan kesadaran. Sedangkan bila menurunkan panas disebut

  Antipiretika. Atas kerja farmakologisnya, analgetik dibagi dalam dua          kelompok besar, yaitu:
a.     Analgetik Perifer (non narkotik), analgetik ini tidak dipengaruhi system saraf
   pusat. Semua analgetik perifer memiliki khasiat sebagai anti piretik yaitu
   menurunkan suhu. Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan
   tidak bekerja sentral.
  Penggolongan: 
Berdasarkan rumus kimianya analgetik perifer digolongkan menjadi :
1)      Golongan salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin. Obat ini
diindikasikan untuk sakit kepala, neri otot, demam. Sebagai contoh aspirin
dosis kecil digunakan untuk pencegahan thrombosis koroner dan cerebral.
Asetosal adalah analgetik antipirentik dan anti inflamasi yang sangat luas
digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Efek sampingnya yaitu
perangsangan bahkan dapat menyebabkan iritasi lambung  dan saluran cerna.
2)      Golongan para aminofenol
Terdiri dari fenasetin dan asetaminofen (parasetamol ). golongan ini serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi
nyeri ringan sedang, dan dapat menurunkan suhu tubuh dalam keadaan
demam, dengan mekanisme efek sentral. Efek samping dari parasetamol dan
kombinasinya pada penggunaan dosis besar atau jangka lama dapat
menyebabkan kerusakan hati.
3)      Golongan pirazolon(dipiron)
Dipiron sebagai analgetik antipirentik, karena efek inflamasinya lemah. Efek
samping semua derivate pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia
aplastik dan trombositopenia.
4)      Golongan antranilat
Digunakan sebagai analgetik karena sebagai anti inflamasi kurang efektif
dibandingkan dengan aspirin. Efek samping seperti gejala iritasi mukosa
lambung dan gangguan saluran cerna sering timbul.



b.      Analgetik Narkotik, Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri  hebat,
    seperti fraktur dan kanker. Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut
    suatu skema bertingkat empat, yaitu:
  Obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol, asetosal.
  Obat perifer bersama kodein atau tramadol.
  Obat sentral (Opioid) peroral atau rectal.
  Obat Opioid parenteral.
   Penggolongan analgetik narkotik adalah sebagai berikut :
  Alkaloid alam                       : morfin,codein
  Derivate semi sintesis           : heroin
  Derivate sintetik                   : metadon, fentanil
  Antagonis morfin                  : nalorfin, nalokson, dan pentazooin.

7.      Antipiretik 
          Antipiretik adalah zat-zat yg dapat mengurangi suhu tubuh.

8.      Obat Antimigrain 
         Obat yang  mengobati  penyakit berciri serangan-serangan berkala dari
         nyeri hebat pada satu atau sebelah bagian kepala.

9.  Obat Anti Reumatik 
Obat yang digunakan untuk mengobati atau menghilangkan rasa nyeri pada
sendi/otot, disebut juga anti encok. Efek samping berupa gangguan lambung
usus, perdarahan tersembunyi (okult ), pusing, tremor dan lain-lain. Obat
generiknya Indomestasin, fenilbutazon, dan piroksikam. 

10. Obat Anti Depresan
      Obat yang dapat memperbaiki suasana jiwa dapat menghilangkan atau
      meringankan gejala-gejala keadaan murung yang tidak disebabkan oleh
      kesulitan sosial, ekonomi dan obat-obatan serta penyakit. 

11. Neuroleptika 
      Obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis (jiwa) tertentu tanpa menekan
      fungsi fungsi umum seperti berfikir dan berkelakuan normal. Obat ini
       digunakan pada gangguan (infusiensi) cerebral seperti mudah lupa, kurang
       konsentrasi dan vertigo.Gejalanya dapat berupa kelemahan ingatan jangka
       pendek dan konsentrasi, vertigo,kuping berdengung, jari-jari dingin, dan
       depresi. Contoh obat neuropletika yaitu Piracetam, Pyritinol HCl dan
      Mecobalamin.

12. Obat Antiepileptika 
 Obat yang dapat menghentikan penyakit ayan, yaitu suatu penyakit gangguan
 syaraf yang ditimbul secara tiba-tiba dan berkala, adakalanya disertai
 perubahan-perubahan kesadaran. Penyebab antiepileptika : pelepasan muatan
 listrik yang cepat, mendadak dan berlebihan pada neuron-neuron tertentu
 dalam otak yang diakibatkan oleh luka di otak(abses,tumor,anteriosklerosis),
 keracunan timah hitam dan pengaruh obat-obat tertentu yang dapat
 memprovokasi serangan epilepsi.
  Penggolongan 
a.       Golongan hidantoin, adalah obat utama yang digunakan pada hamper
         semua jenis epilepsi. Contoh fenitoin.
b.      Golongan barbiturat, sangat efektif sebagi anti konvulsi, paling sering
        digunakan pada serangan grand mal. Contoh fenobarbital dan piramidon.
c.      Golongan karbamazepin, senyawa trisiklis ini berkhasiat antidepresif
         dan antikonvulsif.
d.      Golongan benzodiazepine, memiliki khasiat relaksasi otot, hipnotika dan
         antikonvulsiv yang termasuk golongan ini adalah desmetildiazepam yang
         aktif,klorazepam, klobazepam.
e.       Golongan asam valproat, terutama efektif untuk terapi epilepsy umum
          tetapi kurang efektif terhadap serangan psikomotor. Efek anti konvulsi
          asam valproat didasarkan meningkatkan kadar asam gama amino butirat
          acid.

13. Obat Antiemetika 
      Obat untuk mencegah / menghentikan muntah akibat stimulasi pusat muntah
       yang disebabkan oleh rangsangan lambung usus, melalui CTZ (Cheme
       Receptor Trigger Zone) dan melalui kulit otak. 

  Penggolongan 
a.      Anti histamin
        Efek samping anti histamine ini adalah mengantuk. Anti histamine yang
        dipakai adalah sinarizin, dimenhidrinat, dan prometazin, toklat.
b.      Dopamin blokersinarizin
c.      Metoklopramid dan fenotiazin
         Bekerja secara selektif merintangi reseptor dopamine ke chemo
         reseptor trigger zone tetapi tidak efektif untuk motion sickness. Obat
         yang dipakai adalah klorpromazin HCl,perfenazin, proklorperazin dan
         trifluoperazin.
d.     Domperidon 
          Bekerja berdasarkan peringatan reseptor dopamine ke CTZ. Efek
          samping jarang terjadi hanya berupa kejang-kejang usus. Obat ini
          dipakai pada kasus mual dan muntah yang berkaitan dengan obat-obatan
          sitostatika.
e.    Antagonis serotonin
         Bermanfaat pada pasien mual, muntah yang berkaitan dengan obat              
         obatan sitostatika.

14. Obat Parkinson (penyakit gemetaran )
 Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkison yang ditandai
 dengan gejala tremor, kaku otot,gangguan gaya berjalan, gannguan kognitif,
 persepsi, dan daya ingat. Penyakit ini terjadi akibat proses degenerasi yang
progresif dan sel-sel otak sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi
neurotransmitter yaitu dopamin.

2.4 Definisi penyakit parkinson
Penyakit parkinson atau penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala
tremor, kaku otot  atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak
demi setapak) bahkan dapat terjadi gangguan persepsi dan daya ingat merupakan
penyakit yang tejadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak
(substansia nigra) sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu
dopamin.

2.5 Gejala dan Penyebab Penyakit Parkinson
Gejala-gejala Parkinson dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Gangguan motorik positif, misalnya  terjadi tremor dan rigiditas. Gangguan
motorik negatif, misalnya terjadi  hipokinesia 
2. Gejala vegetatif, seperti air liurdan  air mata berlebihan, muka pucat dan  kaku
(mask   face) 
3. Gangguan psikis, seperti berkurangnya kemampuan mengambil keputusan,
merasa tertekan.
Penyebab penyakit parkinson:
1.      Idiopatik (tidak diketahui sebabnya) 
2.      Radang, trauma, aterosklerosis pada otak. 
3.      Efek samping obat psikofarmaka.

2.6 Diagnosis penyakit Parkinson
Diagnosa penyakit parkinson didasarkan dengan pengambilan data-data riwayat pasien secara hati-hati dan dengan pemeriksaan fisik pasien yang dikaitkan dengan gejala-gejalanya. Hingga saat ini belum ditemukan test laboratorium atau alat pencitraan yang dapat mengkonfirmasi penyakit parkinson. Pencitraan resonansi magnetik atau yang dikenal dengan MRI mungkin menunjukan kondisi lain yang mempunyai gejala serupa dengan penyakit parkinson.5 Oleh karena itu pasien yang mempunyai gejala-gelaja serupa disarankan utuk mencari seorang ahli saraf pada penyakit parkinson

2.7      Perawatan Penyakit Parkinson
Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara atau berbicara dan pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya . 
Terapi Penyakit Parkinson
1.       Terapi penanganan
 Ditujukan untuk memperbaiki atau memelihara keadaan fisik agar pasien
dapat berfungsi mandiri.untuk ini perlu dilakukan latihan pysioterapi yang
berperan penting dalam mendukung medikasi.
2.       Terapi pengobatan 
Terapi ini hanya bersifat simpematis,karna sel-sel otak yang sudah rusak tidak
bisa diperbaiki lagi dan progres penyakitpun tidak bisa di hentikan.terapi di
arahkan pada pemulihan kembali dari keseibangan hormone yang
terganggu.hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi Ach
meningkatkan jumlah Dopamin dengan Dopaminergika.

2.8        Penggunaan Obat Antiparkinson
Meskipun pengobatan parkinson tidak dapat mencegah progresi penyakit,
tetapi sangat memperbaiki kualitas dan harapan hidup kebanyakan pasien. Karena
itu pemberian obat sebaiknya dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan
sedikit demi sedikit.

2.9      Penggolongan Obat Antiparkinson
Berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi:
1.  Obat anti muskarinik, seperti triheksifenidil/benzheksol, digunakan pada
pasien dengan gejala ringan dimana tremor adalah gejala yang dominan. 
2.   Obat anti dopaminergik, seperti levodopa, bromokriptin. Untuk penyakit
 parkinson idiopatik, obat pilihan utama adalah levodopa. 
3.    Obat anti dopamin antikolinergik, seperti amantadine. 
4.    Obat untuk tremor essensial, seperti haloperidol, klorpromazine, primidon
      dll.

2.10      Efek Samping Obat Antiparkinson
1.     Agonis dopamine dapat menimbulkan kesulitan tidur akibat eksitasi,karena
     naiknya kadar DA di otak. Efek kejiwaan dapat terjadi juga , seperti rasa
     takut,depresi dan gejala psikosis pada overdose. Obat-obat ini dapat juga
    bekerja terhadap hipotalamus dan hipofisis,maka menghambat produksi
    prolaktin. 
2.      Anti Kolinergik efek samping nya terutama diakibatkan oleh blockade
     system kolinerg dan berupa efek perifer umum,seperti mulut kering,retensi
     urin,tachycardia,mual,muntah dan sembelit. Begitu pula efek sentral seperti
     kekacauan,agitasi,halusinasi,gangguan daya ingat dan konsentrasi,terlebih
     lebih pada manula.

2.11          Interaksi Obat
Obat Parkinson dapat melawan atau meniadakan efek antipsikotika dan dapat
mencetuskan gejala psikosis pada pasien yang ditangani dengan kedua jenis obat.
Dengan demikian,di anjurkan untuk menurunkan dosis obat Parkinson sebaliknya
antipsikotika dapat memperburuk gejala Parkinson,sedangkan anti depresiva
dapat memperkuat efek kognitif dari antikolinergika.

2.12       Obat-obat Antiparkinson
a.Levodopa (dikombinasikan dengan karbidopa)
         Levodopa merupakan pengobatan utama untuk parkinson. Diberikan bersama
         karbidopa untuk meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek sampingnya 
         Mulai dengan dosis rendah, yg selanjutnya ditingkatkan sampai efek terbesar
         diperoleh.
      b. Bromokriptin atau pergolid
Pada awal pengobatan seringkali ditambahkan pada pemberian levodopa untuk
meningkatkan kerja levodopa atau diberikan kemudian ketika efek samping
levodopa menimbulkan masalah baru.
       c. Seleglin
Seringkali diberikan sebagai tambahan pada pemakaian levodopa.
       d. Obat antikolinergik (benztropin & triheksifenidil), obat anti depresi tertentu,
          antihistamin (difenhidramin)
Pada stadium awal penyakit bisa diberikan tanpa levodopa, pada stadium lanjut diberikan bersamaan dengan levodopa, mulai diberikan dalam dosis rendah
                 e. Amantadin
Digunakan pada stadium awal untuk penyakit yg ringan 
Pada stadium lanjut diberikan untuk meningkatkan efek levodopa.



2.13 Mekanisme kerja obat
Parkinson adalah gejala yang ditandai dengan kurangnya dopamin striatal. Leodopa bersirkulasi dalam tubuh menuju sawar darah otak, saat menembus untuk diubah oleh enzim stratial menjadi dopamin. Levodopa adalah merupakan prekursor dopamin dan digunakan untuk pengobatan parkinson. Obat ini dengan mudahnya dapat memasuki sawar darah otak dimana obat ini dirubah menjadi dopamine. Levodopa aktif terhadap hipokinesia dan kekakuan, terhadap tremor umumnya kurang efektif dibanding dengan obat antikolinergika. Levodopa oral 95 % akan mengalami dekarboksilasi perifer. Untuk mencapai kadar efektif dibutuhkan dosis besar yang disertai efek samping perifer.Karbidopa (penghambat dopa dekarboksilase) dalam dosis terapi tidak melintasi sawar darah – otak. Dengan mencegah metabolisme levodopa ekstraserebral, jumlah dopamine yang terbentuk dalam otak meningkat.Biasanya perbandingan kombinasi levodopa – karbidopa = 10 : 1. Kombinasi ini meningkatkan masa paruh dan kadar plasma levodopa, pada penggunaan kombinasi dosis levodopa dapat diturunkan sampai 75 % sehingga efek samping perifer menurun. 

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang serebrum medula dan sumsum tulang belakang. Antiparkinson adalah salah satu golongan obat yang bekerja pada susunan sistem saraf pusat. Penyakit parkinson ditandai dengan gejala tremor, kaku otot  atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan, gangguan persepsi dan daya ingat yang terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak yang menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu dopamin.


3.2  Saran
Untuk dapat memahami macam-macam obat antiparkison dan perangsang susunan saraf pusat, selain membaca dan memahami materi-materi dari sumber keilmuan seperti buku, internet, dan lain-lain,  kita harus dapat mengkaitkan materi-materi tersebut dengan kehidupan kita sehari-hari, agar lebih mudah untuk dipahami.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Maqassary,Ardi.Obat Anti Parkinson.( http://www.psychologymania.com/2012/12/obat- 
         antiparkinson.html?m=1) . Diakses tanggal 05 September 2014 Jam 07.15 AM

Niesa.Anti Parkinson.( http://niesafarmakologi.blogspot.com/2013/11/anti- 
          parkinson.html).Diakses tanggal 04 September 2014 jam 09.17 AM

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsri. 2009. Kumpulan Kuliah     
             Farmakologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC

Stringer, Janet.2006.Konsep Dasar Farmakologi Panduan Untuk Mahasiswa edisi    
           ketiga.Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC






1 comment:

Silahkan corat coret kolom komentar ^_^

Ads Inside Post

semoga bermanfaat