Thursday, May 22, 2014

Proses Terbentuknya Hukum

Sebagai pengantar untuk mempelajari ilmu ada beberapa bertanyaan mendasar yang harus dijawab agar lebih mudah difahami. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah :

 

a.     Hukum itu apa sebenarnya ?
b.     Di mana bergeraknya hukum dapat diamati ?
c.     Apakah maksud dan tujuan serta keinginan hukum ?
d.     Bagaimana hukum dapat mencapai tujuannya ?

“Jawaban”, atas pertanyaan-pertanyaan prinsip ini akan dituangkan dalam suatu diskripsi yang berupa perumpamaan adanya hukum dalamkehidupan individu dan sosial dalam sebuah kisah sebagai berikut :

a.     H u k u m
1)    Andaikata kenyataan ada seorang “Robinson” yang terdampar di pulau tak bertuan, dan ia bisa hidup dengan iklim pulau kosong ini, maka ia bias menggunakan, memanfaatkan serta berbuat apa saja tanpa berakibat atau atau menimbulkan pertentangan dengan orang lain. Di sini dapat dipastikan bahwa orang yang hidup sendiri tidak dipengaruhi oleh bekerjanya hukum atau tegasnya di sini tidak ada hukum bahkan norma-norma lainpun tidak diyemukan.

 

2)    Namun kemudian hadir dalam kehidupan Robinson yang hanya ditemani oleh binatang-binatang seorang yang kemudian di ketahui bernama Jumini dan bergaullah mereka di tengah pulau yang tadinya kosong. Maka terjadilah perubahan, karena Robinson di samping kebutuhan dan kepentingannya dihadapkan dengan kepentingan dan kebutuhan Jumini. Kepentingan keduanya kadang-kadang bersamaan seperti dalam tugas-tugas menjaga keselamatandari berbagai gangguan. Namun ada kalanya kepentingan dua orang itu bisa berbeda malahan bertentangan, seperti misalnya bila menghadapi satu benda yang kebetulan diperlukan oleh keduanya sedangakan tiada penggantinya. Atau dalam pembagian kerja dan sebagainya. Betapapun karena hanya dua orang saja kesemuanya dapat diatur secara damai dan penuh kesabaran. Tetapi apabila kemudian dating berduyun-duyun beberapa orang lagi, suami-isteri anak-anak orang tua ke pualau yang kemudian semakain ramai, terjadilah masalah dengan semakin rumitnya penentuan kepentingan yang saling berhadapan dan kadang-kadang harus berbenturan.

3)    Bagaimana dan apa yang dapat dilihat di sini ?

Bila ada dua orang atau lebih bertemu satu dengan yang lain, bergaul bersama-sama, sehingga hidup mereka tergantung satu pada yang lain, maka di antara mereka akan bertemu berbagai kepentingan. Ada yang saling sesuai dan saling mengisi, tetapi ada pula yang bertentangan satu sama lain. Namun bagaimanapun kepentingan masing-masing haruslah ditentukan batas-batasnya dan dilindungi. Membatasi dan melindungi kepentingan-kepentingan manusia dalam pergaulan antar manusia, merupakan tugas hokum. Di sini tercermin sebagai alat untuk kepentingan tersebut. Apabila kembali pada contoh Robinson, maka saat hidup sendiri, ia merupakan individu, dalam kehidupannya belum dikenal apa yang dinamakan kelompok ataupun masyarakat. Kemudian setelah Jumini datang, disusul dengan yang lain-lain, berkembanglah mulai dari masyarakat sederhana sampai dalam bentuknya yang semakin kompleks. Dan bersamaan dengan itu timbullah hukum di dalam masyarakat, mulai dari yang sederhana sampai pada saatnya semakin rumit. Corak kehidupan masyarakat diikuti oleh corak hukum yang berlaku pada masuarakat tersebut. Dan dalam perkembangannya saling pengaruh mempengaruhi.


4)    Melihat gejala seperti yang dicontohkan di atas dapatlah dirumuskan: “Hukum adalah gejala social, ia baru berkembang di dalam kehidupan manusia bersama. Ia tampil dalam menserasikanpertemuan antar kebutuhan dan kepentingan warga masyarakat, baik yang sesuai ataupun yang saling bertentangan. Hal ini selalu berlangsung karena manusia senantiasa hidup bersama dalam suasana saling ketergantungan.


b.     Bagaimana bergeraknya hukum dapat diamati ?

 

Dalam kehidupan masyarakat, maka untuk melihat bergeraknya hukum, haruslah kita berada di tengah pergaulan masyarakat, disanalah wujud hukum dapat diamati dengan rasio atau dengan perasaan.


Untuk lebih mengembangkan pengertian tentang hukum marilah kita memperhatikan kisah-kisah di bawah ini :

1)    Apabila kita kembali lagi kepada Robinson dan Jumini di pulau mereka, andaikata mereka mengadakan perjanjian sebagai berikut : R, akan menyediakan bahan-bahan makanan. J akan memasak bahan-bahan makanan itu dan selaku upah untuk pekerjaannya, J dibolehkan turut makan bersam-sama dengan R, jadi disini di adakan antara kedua orang itu perjanjian yang mebgikat; jika perjanjian ini diperlukan dengan menambah beberapa ketentuan yang menetapkan apakah yang harus dilakukan, bilamana salah satu dari keduanya tidak menepati perjanjian, maka terdapatlah suatu contoh yang menyatakan terwujudnya hukum dalam masyarakat (R = Robinson, J = Jumini).
2)    Perumpamaan di atas kita lanjutkan. Seumpamanya R pada suatu ketika tidak memberi makan makanan secukupnaya kepada J, makanan yang dimasak oleh J, hanya cukup untuk seorang saja. Dan karena lapar, makanan itu dihabiskan oleh J, sehingga waktu R tiba dirumah dan tidak didapatinya makanan yang sudah dimasak. Yang satu mempersalahkan yang lain, bahwa ia tidak menepati janjinya. Siapakah yang akan memberi keputusan dalam pertikaian ini ?
3)    Berlabuhlah sebuah kapal yang tidak dikenal di pulau itu; kepada nahkoda kapal itulah, dimajukan perkara itu untuk diadili, atau keduanya meminta pertimbangan. Nahkoda yang asing itu tidak dapat mempergunakan buku undang-undang, sebab di pulau itu tak ada buku semacam itu. Tetapi walaupun demikian, di pulau itu terbentuk suatu hukum perjanjian antara R dan J. Dan Nahkoda itu harus bertindak selaku “Hakim”.
4)    Jadi perlulah kita maju selangkah lagi : hukum itu tak usah tercatat dalam suatu buku atau suratan. Bagaimanakah halnya dalam masyarakat kita yang modern ini ? Sekarang kita pergi ketempat, di mana seagala jenis perkara diadaili; tempat itu adalah Gedung Pengadilan.


c.     Keinginan, Maksud dan tujuan Hukum.

Seperti sementara dapat dirumuskan, bahwa hukum itu adalah kumpulan dari berbagai aturan-aturan hidup (tertulis atau tidak tertulis), yang menentukan apakah yang patut dan tidak patut dilakukan dilakukan oleh seseorang dalam pergaulan hidupnya, suatu hal khusus terdapat dalam peraturan-peraturan hidup itu, yakni bahawa untuk pentaatannya ketentuan itu dapat dipaksakan berlakunya. Namun uraian di atas belum menjelaskan maksud dan tujuan hukum, belum jelas apa sebenarnya keinginan hukum itu.
Untuk itu baiklah kita ikuti deskripsi dibawah ini :

1)    Pada dasarnya manusia itu adalah bersifat ingin didahulukan kepentingannya, ia senantiasa berusaha memperbesar serta mengemukakan kepentingan-kepentingan dengan merugikan kepentingan-kepentingan sesama manusia lainnya. Inilah masalah manusia yang antara lain menuntut perwasitan melalui hukum.
2)    Hukum menghendaki perlakuan yang sama untuk semua orang, serta diaturnya dalam ketentuan hukum, inilah yang dinamakan persamaan hak.
3)    Persamaan hak ini berdasarakan suatu azas yang luhur, yang sebenarnya tidak termasuk dalam lapanagan hukum tetapi di lapangan Etika. Azas yang luhur itu ialah keadilan.
4)    Beberapa ahli filsafat memandang keadilan itu sebagai satu-satunya pedoman bagi hukum. Jadi menurut pendapat mereka, hukum itu semata-mata menghendaki keadilan. Mereka yang berpendirian demikian adalah penganut aliran etika.
5)    Kadang-kadang undang-undang mewajibkan hakim, bilamana ia hendak memberi keputusan, memperhatikan keadilan atau kepatutan; kadang-kadang undang-undang mewajibkan hakim juga menetapkan supaya hubungan anatara dua fihak yang berperkara diadakan dengan itikad baik. Dengan ini undang-undang memberi kesempatan kepada hakim untuk menjalankan keadilan itu secara seksama, karena olehnya itu hakim memperhitungkan sepenuhnya keadaan-keadaan khusus dari tiap-tiap hal tertentu. Akan tetapi kemungkinan ini yang melulu berdasarkan azas-azas etika, adalah suatu pengecualian dalam hukum.
6)    Pada prinsipnya, hukum itu terpaksa juga menetapkan azas-azas dalam garis-garis besarnya. Jika diberikan peraturan mengenai jual beli, maka tidaklah dipersoalkan barang-barang yang mana yang diperjual-belikan, ataukah mahal murahnya harga benda itu. Yang terpenting dalam jual beli, ialah supaya yang bersangkutan mengetahui peraturan-peraturan yang harus dipatuhi (pemenuhuan hak-hak dan kewajibannya). Azas-azas umum demikian mengadakan kepastian hukum.
7)    Maka dapatlah dikatakan bahwa kepastian hukum (yang senantiasa hendak melihat sifat-sifat umum dalam tiap-tiap hal), menurut azasnya berlawanan dengan keadilan (yang senantiasa hendak melihat sifat-sifat yang khusus dalam tiap-tiap hal). Kepastian hukum adalah syarat mutlak bila dikehendaki supaya hukum dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya; keadilan dijadikan pedoman bagi kebenaran isi hukum. Kedua-duanya (kepastian hukum dan keadilan) bertentangan satu sama lain, serta menerbitkan perselisihan yang tak dapat dihilangkan. Akan tetapi kedua-duanya dibutuhkan, agar hokum dapat menyelenggarakan tugasnya dengan baik serta dapat mencapai maksudnya.


d.     Bagaimana Hukum Mencapai Maksud dan Tujuannya.

Hukum dapat mencapai tujuannya apabila dapat menseimbangkan antara kepastian hukum dan keadilan, atau keserasian antara kepastian yang bersifat umum atau objektif dan penerapan keadilan secara khusus yang bersifat subyektif. Untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepastian hukum dan keadilan diperlukan beberapa persyaratan, diantaranya :

1)    Kaedah-kaedah hukum, serta penerapannya sebanyak mungkin mendekati citra masyarakat.
2)    Pelaksana penegak hukum dapat mengemban tuigas sesuai tujuan dan keinginan hokum.
3)    Masyarakat dimana hukum itu berlaku, taat dan sadar akan pentingnya hukum bagi keadilan dan kesejahteraan serta menghayati akan keinginan hukum demi keadilan. Dalam usaha memenuhi syarat-syarat tersebut demi tercapainya keserasian itu fungsi hukum pun berkembang. Hukum sebagai sarana pendorong pembangunan dan sebagai sarana kritis sosial.



No comments:

Post a Comment

Silahkan corat coret kolom komentar ^_^

Ads Inside Post

semoga bermanfaat